Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kunjungi KUD Mojosongo Boyolali, Wamenkop Tawarkan Optimalisasi Penyerapan Susu Sapi Lokal, Seperti Apa?

Ragil Listiyo • Jumat, 15 November 2024 | 02:40 WIB
Kualitas susu sapi asal Boyolali akan ditingkatkan untuk memenuhi standar industri pengolahan susu.
Kualitas susu sapi asal Boyolali akan ditingkatkan untuk memenuhi standar industri pengolahan susu.

RADARSOLO.COM- Wakil Menteri Koperasi dan UKM (Wamenkop) Ferry Juliantono melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Unit Desa (KUD) Mojosongo, Kamis (14/10/2024) sore.

Dalam kunjungan tersebut, Ferry menemui para peternak, pengelola KUD, Usaha Dagang (UD), dan Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir (LPDB).

Ferry menjanjikan solusi untuk mengatasi persoalan serapan susu yang masih kurang maksimal, dengan merencanakan pembangunan pabrik susu yang akan dikelola oleh koperasi.

Ditambahkan Ferry, KUD Mojosongo dan koperasi lainnya, bersama UD dan para peternak di Boyolali, masih berusaha mempertahankan komoditas susu.

Yang mana kontribusi susu Boyolali mencapai 70% dari total produksi susu di Provinsi Jawa Tengah.

"Kami dari Kemenkop berkeinginan mendorong Koperasi Peternak Sapi Perah, Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), untuk memiliki pabrik pengolahan susu sendiri," jelas Ferry.

"Kami akan jajaki kemungkinan koperasi dapat terlibat dalam industri ini. Tujuannya untuk meningkatkan volume produksi susu nasional, karena ada peningkatan kebutuhan susu di tingkat nasional," imbuhnya.

Ferry berharap koperasi dapat berperan dalam peningkatan produksi susu.

Dengan demikian, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai peternak sapi.

Tetapi juga dapat mengelola pabrik pengolahan susu yang menyerap susu lokal.

Mengenai persaingan pasar global, Ferry menekankan bahwa pasar yang ada saat ini tidak saling mengganggu, karena ada program pemerintah yang mendukung konsumsi susu sebagai bagian dari pola makan bergizi.

"Kami punya target program untuk menyukseskan konsumsi makanan bergizi, yang salah satunya adalah susu. Insya Allah, itu bisa dipenuhi oleh peternak sapi dari KUD dan koperasi peternak sapi perah," imbuhnya.

Baca Juga: Si Jago Merah Ngamuk di Gudang Listrik Di Gatak Sukoharjo, Penyebab Kebakaran Masih Misterius

Saat ini, pabrik pengolahan susu yang dikelola koperasi sudah ada di Lembang, Jawa Barat.

Pabrik baru ini akan dibangun di dua lokasi, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Dikelola secara profesional untuk mendukung peningkatan produksi susu nasional.

"Dalam waktu dekat ini, kami akan melibatkan LPDB untuk membantu keuangan yang bersumber dari iuran anggota koperasi peternak. Kami akan patungan untuk memiliki pabrik pengolahan susu koperasi. Mudah-mudahan, kami bisa menyelesaikan feasibility study-nya sebelum akhir tahun," terangnya.

Selain itu, Ferry juga menyoroti potensi Boyolali yang memiliki aset pengolahan susu di Winong, Boyolali Kota, yang belum dimanfaatkan secara optimal.

"Kami akan melihat kemungkinan peningkatan kapasitas dan nilai tambah dari susu yang dihasilkan oleh peternak sapi lokal," tambahnya.

Sebagai langkah jangka pendek, Ferry memastikan ada bantuan alat yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas susu, seperti alat ukur dan mesin pendingin (cooling) yang bisa meningkatkan kualitas susu.

"Kami menindaklanjuti masukan mengenai peningkatan kualitas susu. Beberapa alat pendingin perlu difasilitasi. Seperti pendingin di lokasi-lokasi setempat penghasil susu. Ini akan sangat membantu menjaga kualitas susu," ujarnya.

Pasca protes terkait pembatasan penyerapan kuota susu sapi oleh industri pengolahan susu (IPS), Ferry menegaskan, langkah jangka panjang untuk meningkatkan kualitas susu dan penyerapannya di IPS harus segera dilakukan.

Selain penambahan populasi sapi perah, pabrik pengelolaan susu koperasi menjadi solusi penting.

"Kami harus menambah populasi sapi perah dan meningkatkan kapasitas pabrik pakan. Kami juga akan melibatkan LPDB untuk memfasilitasi alat-alat yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas susu dari peternak lokal," jelasnya.

Manajer KUD Mojosongo Winarno mengungkapkan, produksi susu Boyolali mencapai 140 ton.

Namun hanya 110 ton yang terserap oleh pasar. Sementara 30 ton susu masih belum terserap.

Selain itu, Boyolali hanya memiliki delapan unit mesin pendingin yang berfungsi untuk menjaga kualitas susu.

Baca Juga: Legenda Timnas dan Persis Solo Terpukau dan Kagum Perkembangan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia  

"Kami berharap pemerintah bisa mendukung kami dengan penyediaan mesin pendingin di lokasi-lokasi penghasil susu, agar kualitas susu lebih terjaga dan bisa terserap industri pengolahan susu," pinta Winarno. (rgl/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Boyolali #industri pengolahan susu #wamenkop #penyerapan #IPS #Susu Sapi