Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Harga Sejumlah Bahan Pangan di Boyolali Turun, Daya Beli Masyarakat Malah Lesu: Ini Diduga Penyebabnya

Ragil Listiyo • Jumat, 6 Desember 2024 | 03:20 WIB
Pedagang pasar tradisional di Boyolali mengeluhkan tingkat daya beli masyarakat.
Pedagang pasar tradisional di Boyolali mengeluhkan tingkat daya beli masyarakat.

RADARSOLO.COM-Daya beli masyarakat Boyolali cenderung stagnan dan tidak ada transaksi signifikan.

Meskipun sejumlah bahan pokok mengalami penurunan harga, namun jumlah pembeli justru tidak bertambah.

Heni Nila Sari, pedagang sembako di pasar tradisional Boyolali menjelaskan, harga sembako cenderung stabil, namun tidak ada lonjakan transaksi.

"Biasanya beli 5 beras, sekarang hanya beli 1 kilogram atau seperempat kilogram. Kenaikan harga komoditas paling terasa pada bawang merah yang mencapai Rp 40 ribu. Beras dan gula naik turun, sedangkan harga minyak goreng terus melejit. Saya jual Rp 15 ribu," ujar Heni, Kamis (5/12/2024).

Heri Tri, pedagang bumbu dapur di pasar yang sama juga mengonfirmasi penurunan pembeli.

Meski harga cabai tergolong murah, minat masyarakat justru menurun drastis, bahkan mencapai 50 persen.

"Harga cabai rawit masih Rp 25-30 ribu, teropong Rp25-30 ribu, dan cabai rawit hijau Rp 35 ribu. Bawang merah dan bawang putih masing-masing Rp 40 ribu dan Rp 45 ribu, namun penurunan pembeli tetap terjadi," jelas Heri.

Harga daging ayam potong juga menunjukkan penurunan. Yakni dari Rp 36 ribu per kilogram, kini hanya Rp 34 ribu.

Eni Widowati, pedagang ayam potong mengungkapkan, penurunan penjualan terjadi sejak 3 bulan terakhir.

"Penjualan ayam potong menurun signifikan. Dari biasanya 2,5 kuintal per hari, sekarang hanya sekitar 1,5 kuintal," jelasnya.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Boyolali Insan Adi Asmono mengonfirmasi bahwa daya beli masyarakat cenderung stagnan meski inflasi hanya tercatat 1,5 persen.

Baca Juga: Daftar Perkiraan UMK 2025 di Solo Raya Jika Ikuti Kenaikan Upah Minumum 6,5 Persen: Upah Karanganyar Tetap Tertinggi!

Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 4,9 persen, sementara di Jawa Tengah mencapai 4,95 persen. Seharusnya, daya beli masyarakat bisa terkerek, namun kenyataannya, justru sebaliknya.

"Fenomena ini berbeda dari biasanya. Daya beli masyarakat tidak bergerak seperti yang diharapkan. Walaupun harga turun, transaksi tetap tidak meningkat," ujar Insan.

Insan mencatat fenomena belanja online mungkin tidak terdeteksi dalam survei yang dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Peralihan masyarakat ke belanja online bisa menjadi salah satu penyebab mengapa transaksi di pasar tradisional menurun.

"Kami akan menggali lebih dalam dan memantau kondisi ini lebih lanjut," tambahnya.

Insan berharap, meski tren belanja cenderung beralih ke pola yang lebih modern, daya beli masyarakat dapat segera meningkat dan perekonomian Boyolali bisa kembali pulih. (rgl/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Boyolali #bahan pangan #pasar tradisional #lesu #daya beli masyarakat