RADARSOLO.COM-Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Dusun Kelipan, Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali resmi dijadikan percontohan nasional dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari secara langsung meninjau operasional SPPG Gagaksipat, Senin (3/2/2025).
Qodari sekaligus menyaksikan distribusi MBG di SMAN 1 Ngemplak.
Menurutnya, dibandingkan dengan beberapa SPPG lainnya, fasilitas di Gagaksipat memiliki standar tertinggi.
"Dari semua tempat yang pernah saya kunjungi, ini yang terbaik. Semoga bisa menjadi percontohan nasional agar standar dapur MBG semakin meningkat," ujar Qodari.
Salah satu faktor utama yang membuat SPPG Gagaksipat unggul adalah sistem penyimpanan bahan makanan yang sesuai standar.
Bahan pangan seperti beras, sayur, dan lauk disimpan di ruang terpisah untuk menghindari kontaminasi.
Selain itu, dapur SPPG Gagaksipat yang dikelola Wong Solo Group dilengkapi sistem aliran air bersih langsung, sehingga memastikan kebersihan dalam setiap tahap produksi makanan.
Lantai dapur yang didesain tanpa nat atau celah juga mendapat perhatian khusus, karena dapat meminimalisir pertumbuhan bakteri.
Petugas di dapur diwajibkan mengenakan masker, penutup kepala, serta pakaian khusus untuk menjaga kebersihan.
"BGN (Badan Gizi Nasional) pasti akan terus melakukan evaluasi agar kualitas semakin baik. MBG ini masih baru di Indonesia, jadi perlu banyak penyesuaian," tambah Qodari.
Sejak dimulai, program MBG telah menjangkau lebih dari 600 ribu penerima manfaat melalui 240 SPPG.
Baca Juga: Gaji Ke-13 dan TPG Guru Tahun 2024 di Karanganyar Belum Cair, DPRD Bakal Panggil Disdikbud
Pemerintah telah merealisasikan pembayaran kompensasi atau reimbursment bagi mitra BGN yang terlibat dalam penyediaan makanan bergizi ini.
Pemerintah juga menargetkan program MBG dapat mencakup 83 juta penerima manfaat pada akhir 2025, jauh lebih cepat dari target awal 2029.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperkirakan Indonesia memerlukan antara 15.000 hingga 38.000 SPPG baru di seluruh daerah.
"Presiden Prabowo memiliki harapan besar terhadap program MBG ini, dan targetnya adalah menjangkau seluruh rakyat Indonesia secepat mungkin," jelas Qodari.
Sebagai mitra BGN, Puspo Wardoyo, bos Wong Solo Group menegaskan, standar tinggi dalam penyediaan makanan harus didukung dengan sistem yang profesional.
Berpengalaman dalam industri katering, Puspo Wardoyo berkomitmen memastikan kualitas makanan tetap tinggi dan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
"Di sini kami memiliki 70 pekerja di setiap dapur untuk memproduksi 6.000 porsi per hari," jelasnya.
"Jika pemerintah ingin mencontoh sistem ini, saya siap membantu membangun 5.000 SPPG dalam setahun," lanjut Puspo Wardoyo.
Selain memberikan manfaat kesehatan, program MBG juga berdampak positif pada ekonomi lokal.
Petani dan peternak setempat terlibat dalam penyediaan bahan pangan, sehingga menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa.
Dengan standar tinggi yang diterapkan di SPPG Gagaksipat, pemerintah berharap lebih banyak daerah mengadopsi sistem serupa agar pelaksanaan MBG semakin optimal di seluruh Indonesia. (rgl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono