RADARSOLO.COM-Menjelang bulan suci Ramadhan, tradisi tahunan tak pernah absen dari Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Memasuki awal bulan Syakban—atau yang dikenal sebagai Ruwah dalam tradisi Jawa—masyarakat menggelar Grebeg Sadranan, Minggu (9/2/2025).
Ribuan warga tumplek blek memenuhi Alun-alun Pancasila, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Boyolali untuk menyambut bulan Ruwah.
Grebeg Sadranan menjadi pembuka rangkaian tradisi sadranan di berbagai desa di Kecamatan Cepogo.
Dalam acara ini, sembilan gunungan diarak mengelilingi kampung. Diikuti kirab tumpeng rosul, tenongan khas sadranan, serta kirab budaya.
Para peserta kirab mengenakan pakaian adat tempo dulu, dengan kaum pria memakai jarik yang diikat di kepala atau blangkon.
Sementara peserta perempuan mengenakan kebaya nyamping wiru.
Arak-arakan dimulai dari sebelah barat Pasar Cepogo menuju Alun-alun, melewati perkampungan untuk menghindari kepadatan jalan utama.
Pascakirab,dilanjutkan dengan doa bersama dan ijab qabul sadranan.
Tahun ini, Grebeg Sadranan mengusung tema: "Mara Sanja, Asung Donga, Sambung Rasa, Panjang Yuswo, Murah Boga Wastra."
Ketua Panitia Grebeg Sadranan Mawardi menjelaskan, acara ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh desa di Kecamatan Cepogo, dan digelar oleh Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Cepogo.
"Ada sekitar 350 orang yang membawa tenong, serta hiburan dari berbagai kelompok kesenian. Tenongan ini berisi makanan tradisional yang akan dibagikan," jelas Mawardi.
Baca Juga: Hasil IBL: Kesatria Bengawan Solo Tumbang Atas Hangtuah di Sritex Arena
KH Maskuri, sesepuh Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali menerangkan bahwa sadranan rutin digelar setiap pertengahan bulan Syakban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa.
Ruwah dimaknai sebagai bulan arwah, momen bagi masyarakat untuk mendoakan para leluhur.
Awalnya, tradisi sadranan digelar secara sederhana. Kini, sajian makanan dalam tradisi ini semakin beragam.
Meskipun tidak ada aturan baku mengenai jenis makanan yang harus dibawa ke makam.
"Pakemnya adalah tenong harus berbentuk lingkaran. Maknanya, kehidupan harus berjalan harmonis, manusia menyatu dengan alam, dan saling berkaitan satu sama lain," bebernya.
"Tradisi ini juga menjadi bentuk amaliyah masyarakat dalam mendoakan para leluhur," pungkas KH Maskuri. (rgl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono