RADARSOLO.COM-Petani bunga mawar di lereng Gunung Merapi Boyolali berharap bulan Ruwah membawa berkah.
Menjelang Ramadhan, tradisi sadranan dan ziarah kubur turut mendongkrak permintaan bunga mawar, sehingga harganya ikut melonjak.
"Harganya belum begitu naik, masih Rp50 ribu per keranjang. Kalau tahun kemarin, setelah tanggal 21 Ruwah, harga bunga bisa Rp200 ribu - Rp300 ribu per keranjang," ungkap Yamtini, petani bunga mawar asal Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Boyolali, Rabu (19/2/2025).
Dalam sehari, Yamtini bisa memanen 9-10 keranjang bunga mawar.
Ia dan petani lainnya telah menyiapkan tanaman mereka sejak beberapa bulan lalu dengan melakukan pemangkasan batang mawar.
Teknik ini membuat tanaman tumbuh lebih rimbun dan berbunga lebih lebat.
Setiap pagi, para petani memetik bunga mawar untuk kemudian dijual ke pasar kembang di Kecamatan Musuk.
Berdasarkan pengalamannya, harga mawar biasanya mulai melonjak signifikan sejak H-9 Ramadhan.
"Kami harap harga bunga tahun ini bisa seperti tahun kemarin," harap Yamtini.
Senada dengan Yamtini, petani lain, Rebon, bersyukur dengan hasil panennya.
"Alhamdulillah, bunganya banyak. Harganya juga bagus," ujarnya singkat.
Meskipun harga mawar tahun ini belum menyamai lonjakan tahun lalu, petani tetap optimistis bahwa permintaan akan terus meningkat menjelang Ramadhan.
Tradisi sadranan dan ziarah kubur masih menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga bunga.
Para petani berharap, permintaan pasar tetap stabil dan harga mawar bisa mencapai level tertinggi seperti tahun sebelumnya.
Jika harga terus naik hingga Rp200.000 – Rp300.000 per keranjang, para petani akan mendapat keuntungan besar dari hasil panen mereka. (rgl/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono