RADARSOLO.COM – Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di PT Primayudha Mandiri Jaya, anak perusahaan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), menimbulkan efek domino bagi perekonomian di sekitar pabrik.
Sejak pengumuman PHK pada Jumat (28/2/2025) lalu, aktivitas di pabrik yang berlokasi di Dusun 3, Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, nyaris lumpuh.
Berdasarkan pantauan RadarSolo.com, tak ada aktivitas produksi yang berjalan, hanya petugas keamanan yang berjaga di area pabrik.
Warung Makan Sepi, Omzet Pedagang Anjlok 80%
Pemilik warung makan di sekitar pabrik, Sumarti (50), mengaku pendapatannya turun drastis hingga 80% sejak pabrik berhenti beroperasi.
Sebelum PHK massal, ia bisa meraup pendapatan kotor Rp 2 juta per hari berkat banyaknya karyawan yang menjadi pelanggan tetapnya.
“Itu baru dari pabrik ini saja, Mas. Ada juga pelanggan dari pabrik lain di sekitar sini, tapi yang paling banyak memang dari sini,” ungkapnya, Rabu (5/3/2025).
Sumarti bahkan kerap mendapat pesanan makanan langsung dari dalam pabrik. Namun, kini pesanan tersebut sama sekali tidak ada.
“Sekarang sudah nggak ada, wong pabriknya tutup, karyawannya sudah nggak ada semua,” keluhnya.
Kos-kosan Sepi, 70% Penghuni Pergi
Tidak hanya pedagang, pemilik rumah kos di sekitar pabrik juga terdampak.
Kusnanto (56), pemilik rumah kos di samping PT Primayudha, kehilangan sebagian besar penyewa.
Dari 10 kamar kos yang tersedia, kini 7 kamar kosong karena ditinggalkan oleh para karyawan yang terkena PHK.
“Banyak yang pulang kampung karena di-PHK. Sekarang yang tersisa paling pekerja dari pabrik lain di bawah, atau mereka yang masih nunggu tanggal kosnya habis,” jelasnya.
Baik Sumarti maupun Kusnanto berharap pabrik bisa kembali beroperasi seperti semula agar ekonomi warga sekitar pulih.
Efek domino dari krisis PT Sritex ini semakin terasa, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang selama ini bergantung pada ribuan karyawan pabrik sebagai pelanggan utama mereka. (fid)
Editor : Damianus Bram