RADARSOLO.COM-Dinas Sosial (Dinsos) Boyolali terus meningkatkan upaya dalam program Tanggap Sosial dengan menambah kapasitas rumah singgah bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menjadi 30 kamar.
Kepala Dinsos Boyolali Sumarno mengungkapkan, pembangunan tambahan 10 kamar rumah singgah ODGJ telah rampung dan siap digunakan.
“Tambahan 10 kamar sudah selesai, tinggal melengkapi fasilitas. Hari ini (Jumat, 7/3) kasur sudah datang,” ujar Sumarno.
Program Tanggap Sosial ini merupakan bagian dari visi-misi Bupati Boyolali Agus Irawan dalam penanganan ODGJ.
Dinsos bekerja sama dengan beberapa rumah sakit, di antaranya:
- Rumah Sakit Simo
- Rumah Sakit Pandan Arang
- Rumah Sakit Hidayah
Jika ada laporan warga tentang ODGJ, Dinsos akan:
✅ Menjemput ODGJ dari lokasi kejadian
✅ Membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis
✅ Menempatkan di rumah singgah untuk rehabilitasi
“Di rumah singgah, pasien akan kami pantau kesehariannya, diberikan makanan dan obat tiga kali sehari,” jelas Sumarno.
Anggaran & Mekanisme Pendanaan
- Anggaran rumah singgah berasal dari APBD Boyolali
- Dinsos mengalokasikan dana untuk makanan, pakaian, dan perawatan
- Setiap tahun, anggaran dapat ditambah sesuai kebutuhan
“Terkadang anggaran yang kita ajukan Rp200 juta kurang, karena jumlah ODGJ naik turun. Jika kurang, kami ajukan tambahan,” kata Sumarno.
Rumah singgah Dinsos Boyolali sering menjadi lokasi studi bagi kabupaten lain terkait penanganan kesehatan jiwa.
Di rumah singgah ini, terdapat 11 tenaga perawat yang bertugas.
Selain warga Boyolali, rumah singgah ini juga menampung ODGJ dari daerah lain.
“Kami tidak memandang asal mereka dari mana. Jika ada ODGJ di Boyolali, tetap kita rawat. Setelah itu, kita identifikasi melalui biometri dan berkoordinasi dengan Dinsos daerah asalnya,” terang Sumarno.
Pemulangan ODGJ ke Daerah Asal:
- Maksimal waktu rehabilitasi di rumah singgah adalah 14 hari
- Jika melebihi batas waktu, pasien akan dipindahkan ke panti rehabilitasi
- Jika keluarganya ada, pasien akan dikembalikan ke keluarga
Bahkan, untuk pasien dari luar Pulau Jawa, Sumarno dan tim Dinsos Boyolali kerap merogoh kocek pribadi untuk membantu biaya pemulangan.
“Kalau anggaran terbatas, kami iuran beli tiket pesawat untuk memulangkan ODGJ ke Medan, Aceh, atau Kalimantan,” ungkapnya. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono