Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

PHK Massal di PT Primayudha Mandiri Jaya, Ini yang Dirasakan Salah Satu Mantan Buruh Sritex Group

Abdul Khofid Firmanda Putra • Senin, 17 Maret 2025 | 22:04 WIB
Fajar Wijayanti (kanan) saat berfoto bersama rekan kerjanya sebelum mengalami PHK.
Fajar Wijayanti (kanan) saat berfoto bersama rekan kerjanya sebelum mengalami PHK.

RADARSOLO.COM – Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dilakukan oleh PT Primayudha Mandiri Jaya (Sritex Group) di Dusun III, Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Boyolali pada 28 Februari 2025 menyisakan duka dan ketidakpastian bagi para mantan pekerjanya.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Fajar Wijayanti (28), yang telah bekerja di pabrik tersebut selama lebih dari sembilan tahun sejak lulus SMA.

Fajar mengaku terkejut dan sedih saat menerima kabar PHK, apalagi keputusan itu diumumkan sehari sebelum bulan puasa.

"Rasanya nyesek, dadakan banget, terus mau Lebaran juga. Banyak yang menangis, kasihan pegawai yang sudah sepuh," ujarnya, Senin (17/3/2025).

Selama ini, pekerjaan sebagai buruh pabrik merupakan sumber pendapatan utama bagi Fajar untuk menghidupi keluarganya.

Sang suami yang juga bekerja di pabrik yang sama selama tiga tahun turut terkena dampaknya.

"Tanggungan lagi banyak, anak baru masa pertumbuhan, butuh banyak biaya. Orang tua juga. Sekarang bulan puasa, harga-harga naik, tapi kami tidak punya pekerjaan," keluhnya.

Sejak di-PHK, Fajar mengandalkan gaji terakhirnya untuk bertahan hidup. Namun, ia mengaku kesulitan mencari pekerjaan baru karena keterbatasan lapangan kerja di daerahnya.

"Ini daerah lereng gunung, beda dengan Solo yang banyak lowongan kerja. Di sini, susah cari pekerjaan baru," tuturnya.

Ia juga mengkhawatirkan nasib rekan-rekannya yang sudah berusia lanjut dan memiliki pendidikan rendah.

"Pegawai yang sudah tua takutnya tidak bisa dapat kerja pengganti, kebanyakan mereka cuma lulusan SD," tambahnya.

Di tengah keterpurukan, Fajar mengaku bersyukur karena suaminya baru saja mendapatkan pekerjaan baru di sebuah pabrik mebel kayu.

"Alhamdulillah, setidaknya ada pemasukan. Selama dua minggu awal puasa, kami sama sekali tidak punya pemasukan," katanya.

Namun, ketidakpastian masih menghantui para mantan buruh PT Primayudha Mandiri Jaya terkait pesangon dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang belum dibayarkan.

"Kami masih menunggu kejelasan. Janjinya nanti kalau sudah ada yang beli aset pabrik, pesangon dan THR akan dibayarkan. Tapi sekarang sudah pertengahan puasa, belum ada kabar. Takutnya malah tidak dibayar," harapnya.

Hingga kini, para mantan buruh masih menanti kepastian dari pihak perusahaan mengenai hak-hak mereka. (fid)

Editor : Damianus Bram
#pailit #thr #Boyolali #phk #Sritex #PT Primayudha Mandiri Jaya