Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Umat Hindu Banyudono Gelar Melasti Tanpa Arak-arakan, Tunjukkan Toleransi di Bulan Puasa

Abdul Khofid Firmanda Putra • Selasa, 25 Maret 2025 | 21:51 WIB
Ratusan umat Hindu di Kecamatan Banyudono, Boyolali, menggelar Upacara Melasti secara khidmat di kompleks Siti Inggil Park, Desa Bendan, Selasa (25/3/2025).
Ratusan umat Hindu di Kecamatan Banyudono, Boyolali, menggelar Upacara Melasti secara khidmat di kompleks Siti Inggil Park, Desa Bendan, Selasa (25/3/2025).

RADARSOLO.COM – Ratusan umat Hindu di Kecamatan Banyudono, Boyolali, menggelar Upacara Melasti secara khidmat di kompleks Siti Inggil Park, Desa Bendan, Selasa (25/3/2025).

Ritual suci ini dilakukan untuk menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Sabtu, 29 Maret 2025.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Upacara Melasti kali ini dilaksanakan tanpa arak-arakan. Hal ini sebagai bentuk toleransi karena bertepatan dengan bulan Ramadan.

“Kami sebagai umat Hindu di wilayah kecamatan punya satu toleransi. Karena saat ini bulan puasa, kami khawatir arak-arakan mengganggu kekhusyukan umat lain dalam beribadah. Jadi disepakati untuk ditiadakan dulu,” ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Banyudono, Heru Kuncoro.

Makna dan Rangkaian Upacara Melasti

Upacara dimulai pukul 08.00 WIB dengan seremonial pembukaan, sambutan dari Sekretaris Desa Bendan, dilanjutkan sambutan dari Ketua PHDI Banyudono. Prosesi dilanjutkan dengan puja oleh pendeta dan persembahyangan bersama umat.

Setelah itu, umat melakukan Mendak Tirta atau pengambilan air suci di mata air Siti Inggil yang diyakini sebagai sumber air tertinggi dan paling sakral di wilayah tersebut.

Ratusan umat Hindu di Kecamatan Banyudono, Boyolali, menggelar Upacara Melasti secara khidmat di kompleks Siti Inggil Park, Desa Bendan, Selasa (25/3/2025).
Ratusan umat Hindu di Kecamatan Banyudono, Boyolali, menggelar Upacara Melasti secara khidmat di kompleks Siti Inggil Park, Desa Bendan, Selasa (25/3/2025).

“Para sesepuh kami menyebutkan bahwa Siti Inggil paling cocok digunakan untuk Mendak Tirta,” jelas Heru.

Prosesi berjalan khidmat diiringi alunan gending Jawa, dentingan lonceng, dan aroma dupa yang memperkuat nuansa sakral penyucian diri ini.

Peserta Melasti dan Makna Spiritual

Sekitar 450–500 umat Hindu dari Kecamatan Banyudono, Teras, hingga Kota Solo turut ambil bagian.

Heru menyebut, upacara ini bukan hanya untuk membersihkan benda-benda suci, namun juga menyucikan alam dan diri manusia dari energi negatif.

“Melasti adalah upacara untuk membersihkan sukre atau energi negatif di alam (makrokosmos) dan dalam diri manusia (mikrokosmos),” tambahnya.

Salah satu umat Hindu asal Bendan, Joko Suseno (51), turut menyampaikan harapannya agar Hari Raya Nyepi tahun ini berjalan lebih tenang.

“Tahun-tahun sebelumnya kita arak-arakan dari pura, tapi kali ini kita saling toleransi,” ujarnya.

Ogoh-ogoh Diundur Usai Tarawih

Selain Melasti, tradisi pawai Ogoh-ogoh juga mengalami penyesuaian. Biasanya digelar menjelang maghrib, kini pawai akan dilakukan setelah salat tarawih.

“Karena ada permintaan dari muda-mudi lintas umat untuk ikut serta, maka kami undur agar tidak mengganggu ibadah,” kata Heru.

Langkah ini menunjukkan semangat toleransi dan harmoni antarumat beragama di Boyolali.

Heru berharap, melalui ritual Melasti, umat Hindu dapat menjalani Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih dan damai. (dam)

Editor : Damianus Bram
#Boyolali #banyudono #Upacara Melasti #phdi #hindu