Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sentuhan Digital Aji Prasetyo Angkat Kembali Pamor Kerajinan Tembaga Cepogo

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 1 April 2025 | 01:50 WIB
Aji Prasetyo, desainer kerajinan tembaga tumang.
Aji Prasetyo, desainer kerajinan tembaga tumang.

 

RADARSOLO.COM-Dunia kerajinan tembaga di Dusun Banaran, Desa Cepogo, Boyolali terus berinovasi dan bertransformasi di era digital.

Tak hanya mengandalkan keahlian tangan, kini jasa desain digital turut menjadi elemen penting dalam perkembangan kerajinan logam khas Tumang.

Salah satu tokoh muda yang menonjol di bidang ini adalah Aji Prasetyo, desainer tembaga sekaligus pendiri ARTO Ilustrator.

Lulusan SMK tahun 2015 ini memulai kariernya sebagai sekretaris galeri kerajinan sekaligus desainer.

Pada 2024, Aji memilih untuk mandiri dan membuka ruang desain di rumahnya yang dinamai Anom’s House.

Di sana, ia melayani berbagai kebutuhan desain digital kerajinan tembaga dari para pengrajin lokal.

Bakat seni Aji tidak datang begitu saja. Ia mewarisi darah seni dari kedua orang tuanya.

Ayahnya, almarhum Widodo Anom Wibisono, merupakan desainer dan pengukir kawakan di Tumang sejak era 1970-an.

Sementara ibunya, Sukamti, hingga kini masih aktif menjadi pengukir tatah sejak tahun 1985.

“Awalnya kerajinan tembaga hanya terbatas untuk perkakas dapur. Tapi kemudian berkembang karena ada pekerja yang punya kemampuan mengukir dan memukul, lalu muncullah bentuk-bentuk baru seperti vas, lampu, dan hiasan lainnya,” urai Aji.

Widodo Anom Wibisono, sang ayah, bahkan menjadi pioner dalam pembuatan lampu robyong tembaga yang kini terpasang di Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan Dibangun di Nglangon Sragen, Intip Perkembangannya

Ia juga memperkenalkan berbagai tekstur tembaga. Seperti babaran rancak, babaran jeruk, babaran bambu, dan babaran batu.

Di masa lalu, ketika kertas masih langka, proses duplikasi desain dilakukan menggunakan jelaga dari panci gosong.

Jelaga itu diratakan di atas ukiran tembaga, lalu ditempelkan ke kertas untuk dijadikan pola duplikat.

Kini, seiring perubahan zaman, tren permintaan desain juga berubah.

Konsumen tidak hanya datang membawa sketsa atau cetakan foto, tetapi juga spesifikasi ukuran yang detail. Inilah peluang yang dibaca Aji.

“Desain sekarang nggak hanya tradisional. Ada yang modifikasi dari desain lama, ada yang full digital. Permintaan juga macam-macam, mulai dari pucuk menara masjid, lampu, wall art, sampai relief wajah tokoh,” ujarnya.

Gunungan wayang, salah satu hasil desain Aji.
Gunungan wayang, salah satu hasil desain Aji.

Dalam sehari, Aji bisa menyelesaikan 3–4 desain sederhana. Ia melayani pemesanan dari pukul 08.00–16.00.

Harga jasa desain bervariasi, mulai dari Rp15.000 untuk desain simpel, Rp50.000 untuk logo, hingga Rp150.000 untuk desain kompleks seperti relief tokoh atau gunungan wayang.

“Yang paling sulit dan riskan itu desain gunungan wayang, karena harus mengikuti pakem. Meski saya masih belajar, tapi ingin hasilnya bisa luwes dan seimbang, seperti desain-desain almarhum Bapak,” tambah Aji.

Saat ini, Aji termasuk dalam kelompok kecil desainer digital tembaga di Cepogo.

Ada sekitar enam desainer spesialis digital di wilayah tersebut.

Mereka adalah jembatan antara tradisi dan teknologi, membawa warisan kerajinan logam ke panggung yang lebih luas. (rgl/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#kerajinan #Jasa #desainer #tumang #tembaga #digital