Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Warga Temanggung yang Hilang di Gunung Merbabu lewat Jalur Ilegal Timboa, Kenapa Pendaki Dilarang Lewat Sana?

Abdul Khofid Firmanda Putra • Selasa, 22 April 2025 | 02:08 WIB
Warga Timboa, Desa Ngadirojo, Kecamatan Gladagsari, Boyolali mengajak buah hati mereka bersihkan tangga kuno di Gunung Merbabu.
Warga Timboa, Desa Ngadirojo, Kecamatan Gladagsari, Boyolali mengajak buah hati mereka bersihkan tangga kuno di Gunung Merbabu.

RADARSOLO.COM- Sugeng Parwoto, 50, warga Krajan RT 04 RW 04, Kecamatan Tlogorejo, Kabupaten Temanggung, hilang di Gunung Merbabu.

“Kami menerima laporan pada Minggu malam, 20 April 2025, dan pada pagi harinya pencarian dimulai,” jelas Kasubbag Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) Nurpana Sulaksono, Senin (21/4/2025) sore.

Sugeng Parwoto diketahui melakukan pendakian seorang diri melalui jalur Timboa yang terletak di Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali.

BTNGMb sudah menetapkan Timboa merupakan jalur terlarang alias untuk pendakian.

Pendaki yang nekat melewati jalur ini tanpa izin resmi akan dikenakan pembinaan hingga sanksi tegas.

Pelarangan pendakian di jalur Timboa bukan tanpa alasan.

Lokasi ini diketahui memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan menyimpan situs arkeologi yang sangat bernilai. Termasuk situs cagar budaya.

Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahardian, mengonfirmasi bahwa terdapat situs cagar budaya di jalur Timboa.

Selama ekspedisi pada pertengahan 2020 bersama tim BTNGMb, BHS menemukan 14 situs arkeologi di sepanjang jalur pendakian Timboa menuju Puncak Syarief.

Situs-situs ini termasuk struktur tangga batu alam, prasasti batu berangka tahun 1448 Saka (1526 Masehi), dan reruntuhan yang dikenal dengan nama Candi Bawah.

“Beberapa struktur yang ditemukan termasuk tangga batu yang menghubungkan teras-teras di ketinggian 2.908 mdpl. Kami juga menemukan prasasti batu dengan tulisan khas lereng Merapi-Merbabu yang diperkirakan dibuat pada abad ke-15 hingga ke-16,” jelas Kusworo.

Selain itu, ditemukan pula batu lumping, pecahan terakota, serta struktur tangga lainnya di ketinggian 2.902 mdpl.

Baca Juga: Wajah Pendaki yang Berfoto Sembari Menginjak Situs Bersejarah Watu Kenteng di Gunung Merbabu Terlihat Jelas, BTNGMb lakukan Pelacakan Identitas

Menurut Kusworo, situs-situs ini menunjukkan adanya hunian komunitas tertentu pada masa lalu.

Informasi lain menyebutkan bahwa di jalur Timboa terdapat satwa endemik Gunung Merbabu.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Rek-rekan.

Baca Juga: Viral Sejumlah Pendaki Gunung Lawu Kesurupan di Pos 2: Disebut Kental Energi Mistis, Leluhur Murka Gara-gara Hal Ini

Rek-rekan adalah monyet yang memiliki rupa tidak biasanya dan sering dianggap hantu oleh warga setempat karena berambut jabrik. Monyet ini dikenal pemalu.

Bagi para pendaki Gunung Merbabu, bisa mengakses puncak lewat jalur Selo (Boyolali), Suwanting dan Wekas (Magelang), serta Thekelan (Semarang). (fid/wa) 

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#gunung merbabu #sugeng parwoto #pendaki hilang #Jalur ilegal #timboa #temanggung