Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jelang Hari Raya Idul Adha: Pasar Sapi Jelok Mulai Ramai Meski Penjualan Masih Lesu

Abdul Khofid Firmanda Putra • Minggu, 25 Mei 2025 | 22:45 WIB
Aktivitas jual beli hewan ternak di Pasar Sapi Jelok, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Minggu (25/5/2025)
Aktivitas jual beli hewan ternak di Pasar Sapi Jelok, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Minggu (25/5/2025)

RADARSOLO.COM-Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai meningkat di Pasar Sapi Jelok, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Pada Minggu (25/5/2025), pasar yang beroperasi setiap hari Pahing dalam penanggalan Jawa itu mulai dipadati peternak dan calon pembeli.

Bendahara UPT Pasar Hewan Sunggingan, Imam Kadhofi, mengungkapkan bahwa lonjakan transaksi baru terlihat mulai H-10 Idul Adha.

“Biasanya sebulan sebelum Idul Adha pasarnya sudah ramai, bahkan sampai macet di jalan masuk pasar. Tapi tahun ini, euforia pembeli baru terlihat pada H-10,” jelasnya kepada radarsolo,com, Minggu (25/5/2025).

Rofi, sapaan akrabnya, menduga penurunan awal transaksi disebabkan oleh dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa bulan lalu.

Meskipun demikian, ia mengonfirmasi bahwa aktivitas di Pasar Sapi Jelok tetap mengalami kenaikan dibanding hari pasar Pahing biasa.

“Kondisinya tetap ada kenaikan. Biasanya kalau sudah seperti ini, sampai H-1 Lebaran pasar tetap ramai. Bedanya, tahun lalu puncak keramaian di H-10, sekarang justru baru mulai ramai di H-10,” ungkapnya.

Setiap mendekati Hari Raya Idul Adha, harga hewan kurban juga mengalami kenaikan.

Untuk sapi, harga naik sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per ekor. Sementara harga kambing naik antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per ekor, atau sekitar 20%–30%.

“Sudah mulai ada kenaikan harga, tapi rasio penjualan menurun dibanding tahun lalu. Penjual yang biasanya bisa menjual delapan ekor sapi, sekarang hanya empat sampai lima ekor,” ujarnya.

Penurunan penjualan juga dipengaruhi oleh menurunnya permintaan dari luar daerah, terutama Jawa Barat dan Jakarta.

Hal ini disebabkan adanya pembatasan distribusi karena wabah PMK dan antraks yang sempat merebak di Gunung Kidul.

Baca Juga: Fesmikraf 2025 Diserbu Warga, Bupati Wonogiri: Ini Bentuk Cinta pada Daerah

“Sekarang izin pengiriman lebih ketat, seperti Boyolali masuk daftar pantauan. Jadi permintaan dari luar menurun,” tambahnya.

Meski demikian, permintaan sapi dari wilayah Soloraya tetap tinggi. Umumnya, pembeli memilih sapi dengan bobot antara 500 hingga 600 kilogram per ekor.

Sementara itu, Sholihin, 47, seorang penjual sapi asal Selo, mengaku penjualan tahun ini belum bergairah.

“Sekarang orang-orang agak susah mengeluarkan uang untuk beli sapi,” keluhnya.

Ia berharap situasi membaik mendekati hari H Idul Adha. “Semoga pembeli bisa meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Meski pasar belum seramai harapannya, Sholihin tetap bersyukur. Dari lima sapi yang dibawa ke Pasar Jelok, tiga ekor sudah laku terjual.

“Satu sapi saya laku Rp35 juta, bobotnya sekitar 750 kilo,” pungkasnya. (fid/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#idul adha #pasar sapi jelok #hewan kurban #transaksi #jual beli