RADARSOLO.COM-Stabelan, sebuah dusun di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali memiliki segudang potensi.
Tidak hanya menanam sayuran, warga Stabelan juga membudidayakan kopi jenis arabika.
Kepala Dusun Stabelan Maryanto menjelaskan, sejak 2017, warga Stabelan mulai serius menekuni budidaya kopi.
"Awalnya tidak banyak, kopi ditanam di samping kebun sayur, ladang di hutan, bahkan di halaman rumah, menggunakan sistem tumpang sari," ujarnya kepada radarsolo.com, Senin (9/6/2025).
Maryanto melanjutkan, pada 2010 setelah erupsi Merapi, Dusun Stabelan menerima bantuan bibit tanaman dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Dari sana, warga mulai menanam kopi di lahan mereka.
Namun, awalnya mereka tidak serius karena bingung mencari pasar untuk hasil tanaman kopi tersebut.
Banyak pohon kopi yang dipangkas atau bahkan ditinggalkan.
Kegiatan ini mulai berkembang kembali ketika kepala Desa Tlogolele saat itu, Widodo, mencetuskan ide untuk membangun Stabelan sebagai sentra kopi seperti pada zaman Belanda.
"Pak Widodo ingin mengembalikan Stabelan dengan suasana ala Belanda untuk menarik perhatian wisatawan," ujar Maryanto.
"Maka, Stabelan diberi branding sebagai daerah penghasil kopi, karena memang dulu Stabelan merupakan salah satu pusat budidaya kopi dan cengkih di masa Belanda," lanjut dia.
Apalagi nama Stabelan berasal dari bahasa Belanda, yang berarti gudang kopi.
Saat ini, warga Stabelan telah berhasil membudidayakan kopi jenis Arabika yang sangat cocok dengan kondisi geografis wilayah tersebut.
"Sejak pertama kali panen pada tahun 2017 hingga kini, hasil panen selalu memuaskan," jelas Maryanto.
Hasil panen kopi tersebut kemudian diolah menjadi roast bean (kopi siap seduh) dengan berbagai varian rasa.
Seperti wine, honey, natural, full wash, semi wash, hingga anaerob.
"Meskipun hanya menanam beberapa pohon, hasilnya kami tampung semua dan olah," ungkapnya.
Dalam sekali masa panen, warga Stabelan bisa menghasilkan 1,5 ton biji kopi mentah yang kemudian diolah menjadi kopi siap seduh.
"Itu untuk keseluruhan hasil panen dari warga Stabelan," ujarnya.
Kopi yang dihasilkan diberi nama Kopi Stabela. Harganya mulai dari Rp35 ribu hingga Rp100 ribu tergantung berat kemasan.
"Kami lebih fokus untuk menjual kepada wisatawan yang datang. Sebelumnya sempat juga menjual ke luar kota, tapi sekarang lebih fokus pada wisatawan yang berkunjung ke sini," pungkas Maryanto. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono