RADARSOLO.COM - Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Boyolali segera mengevaluasi sistem latihan siswa perguruan silat dan pertandingan.
Ini menyusul kasus murid perguruan silat yang meninggal dunia saat latihan silat Mei lalu.
"Ya, jadi ketika melatih, haruslah didasarkan pada kurikulum yang didesain dari hasil kajian-kajian akademik," ujar Ketua IPSI Boyolali Rony Syaifullah belum lama ini.
Menurut Rony, metode pelatihan dalam pencak silat harus berlandaskan pendekatan ilmiah agar aman bagi para siswa.
Selain itu, setiap pelatih harus memiliki pemahaman tentang prinsip-prinsip pelatihan yang aman dan bertanggung jawab.
"Saya yakin pelatih memiliki niat baik dalam mendidik siswa. Tapi kebetulan ada kesalahan prosedur melatih sehingga terjadi insiden tersebut," lanjut Rony.
Sebagai langkah tindak lanjut, IPSI Boyolali segera menerbitkan imbauan resmi kepada seluruh perguruan silat untuk meninjau ulang kurikulum latihan yang digunakan.
Selain itu, IPSI juga akan mengadakan pelatihan khusus bagi para ketua dan pelatih perguruan silat agar lebih memahami standar pelatihan yang aman.
"Sehingga pelatih mengetahui pelatihan yang aman, yang mengedepankan prinsip-prinsip pelatihan, dan risiko-risiko bisa kita minimalkan," katanya.
IPSI berharap dengan evaluasi dan peningkatan kapasitas pelatih ini, insiden serupa tidak akan terulang di masa mendatang.
“Selain itu dunia pencak silat di Boyolali bisa berkembang dengan sehat dan aman serta terus memberikan kontribusi prestasi,” pungkasnya. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono