RADARSOLO.COM - Kecamatan Juwangi di Boyolali terkenal dengan bunga Tanjungwangi yang harum, stasiun kereta bersejarah, dan kebiasaan unik warga mengurus berkas saat pasaran Legi dan Wage.
Juwangi, sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali, menjadi salah satu tempat yang menyimpan keunikan dan pesona alam yang belum banyak terjamah.
Meskipun terletak jauh dari pusat kota, dengan jarak sekitar 15 hingga 20 kilometer, Juwangi menawarkan suasana yang tenang dan asri, mengingatkan pada keindahan alam yang ada di masa lalu.
Seperti sebuah perjalanan kembali ke tahun 90-an, Juwangi memancarkan kedamaian yang khas dengan pepohonan rimbun, hutan jati yang mempesona, dan pemandangan yang asri.
Kecamatan ini membentang di atas tanah seluas 79.990 kilometer persegi dan dihuni oleh sekitar 8.770 jiwa pada tahun 2023. Dengan jaraknya yang cukup jauh dari Boyolali, warga yang hendak menuju pusat kota harus menempuh waktu perjalanan lebih dari satu setengah jam.
Meskipun demikian, Juwangi justru menjadi sebuah tempat yang menyimpan banyak potensi budaya dan sejarah yang patut untuk diketahui.
Nama "Juwangi" sendiri diambil dari bahasa Jawa, yang berarti "Bunga yang harum". Nama ini terinspirasi dari tanaman Tanjungwangi yang dahulu banyak tumbuh di wilayah ini.
Menurut Heru Nugroho, Kasi Keamanan dan Ketertiban Kantor kecamatan Juwangi, Tanjungwangi, yang kini menjadi lambang daerah tersebut, memiliki bau harum yang khas, terutama di malam hari.
“Dulu, Tanjungwangi banyak ditemukan di sini. Namun, sekarang tinggal beberapa pohon saja. Salah satunya yang ada di depan kantor kecamatan ini,” ujar Heru.
Menurutnya, meskipun pohon Tanjungwangi di depan kantor hanya berjumlah tiga, dengan usia lebih dari 25 tahun, pohon-pohon ini tetap memiliki daya tarik tersendiri.
“Malam hari, baunya semerbak dan bisa tercium dari jauh. Siang hari, baunya tidak sekuat malam,” lanjutnya.
Keindahan bunga Tanjungwangi ini turut dipertahankan dan diabadikan sebagai lambang kecamatan. Bahkan, simbol bunga Tanjungwangi dapat ditemukan di tembok kantor kecamatan, menggambarkan kekuatan dan keindahan alam yang ada di Juwangi.
Salah satu keunikan lain dari Juwangi adalah keberadaan Stasiun Telawa. Stasiun ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang sudah berdiri sejak 1870.
Kini, meskipun sudah berusia lebih dari seratus tahun, Stasiun Telawa masih beroperasi dan dilewati oleh kereta api, salah satunya adalah Kereta Joglosemakerto.
"Stasiun Telawa ini menjadi satu-satunya stasiun di Boyolali. Meskipun sudah tua, stasiun ini masih beroperasi dengan melayani kereta api yang menghubungkan berbagai kota," ungkap Heru.
Keberadaan stasiun ini memberikan nuansa sejarah yang kuat di Juwangi dan menjadi salah satu tempat yang tak bisa dilewatkan oleh wisatawan yang datang ke daerah ini.
Tidak hanya alam dan sejarah yang membuat Juwangi unik, namun kebiasaan masyarakat setempat juga patut dicatat. Di Juwangi, ada tradisi unik di mana sebagian besar warga mengurus berkas-berkas mereka setiap kali pasaran Legi dan Wage berlangsung.
Pasaran ini menjadi saat yang tepat bagi mereka untuk datang ke kantor kecamatan dan menyelesaikan berbagai urusan administratif.
"Karena jarak antar desa cukup jauh, kebanyakan warga memilih untuk datang dan mengurus berkas saat pasaran Legi atau Wage. Kami di kantor kecamatan pun sudah terbiasa dengan kebiasaan ini," ungkap Heru.
Kehadiran masyarakat di hari pasaran tidak hanya untuk mengurus berkas, tetapi juga untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan antarwarga.
Di tengah perkembangan zaman, kecamatan ini tetap menjaga identitasnya, memberikan suasana yang nyaman, asri, dan penuh makna bagi penduduknya. (fid/bun)
Editor : Kabun Triyatno