RADARSOLO.COM-Baru seumur jagung, namun kondisi pasar ikan segar dan kuliner di Sunggingan, Kelurahan Banaran, Boyolali sudah merana.
Tampak tak terurus, penuh debu, kaca pecah, dan bahkan setiap malam menjadi tempat berkumpul anak-anak jalanan. Nyaris seperti rumah angker.
Yang lebih miris, hanya ada satu pedagang yang masih bertahan, yakni Joko.
Dia berdagang sendirian selama lebih dari tiga bulan terakhir.
“Saya sendiri, karena yang lain sudah pada tutup, sepi,” ujar Joko, Rabu (2/7/2025).
Karena sepi pembeli, Joko mengakalinya dengan berjualan sistem COD (Cash On Delivery).
“Kan jarang ada yang masuk ke kios pasar ikan. Jadi saya sambil jualan keluar, COD, supaya masih ada pendapatan,” tambahnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Boyolali Purnawan menyebut, pihaknya sudah mencari investor untuk mengelola pasar ikan Sunggingan.
"Sudah ada investor, kemungkinan dalam waktu dekat akan kami arahkan untuk pengecekan lokasi, semoga secepatnya terlaksana,” kata Purnawan.
Diterangkannya, pasar ikan segar dan kuliner Sunggingan dibangun oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali.
Baca Juga: Tol Dioperasionalkan Selama 24 Jam, Klaten-Prambanan Bisa Ditempuh Dalam Waktu 5 Menit
Saat masa percobaan, pedagang diberi kesempatan berjualan tanpa dipungut biaya sewa.
Struktur bangunan pasar ikan Sunggingan terdiri dari:
- 2 kios utama
- 14 los pedagang di lantai 1
- 5 los restoran di lantai 2
Menurut Purnawan, penyebab utama pasar tersebut sepi adalah karena minimnya minat masyarakat untuk mengonsumsi ikan.
“Nanti agar disosialisasikan lagi kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi ikan, karena tempatnya juga proper untuk berjualan,” jelasnya.
Selain itu, kurangnya branding juga memengari aktivitas jual beli.
“Karena memang tempatnya juga di pasar, kios-kios di sekitarnya juga ramai. Nanti akan kita coba bantu mem-branding,” pungkasnya. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono