RADARSOLO.COM-Dusun Sidodadi di Kelurahan Banaran, Boyolali, kini bertransformasi total.
Dahulu, wilayah setempat dikenal sebagai pusatnya maksiat, dan sekarang sudah berubah 360 derajat.
Sidodadi sudah menjadi salah satu destinasi budaya yang ditunggu-tunggu masyarakat.
Lewat inisiatif warga, dusun setempat rutin menggelar Pasar Klataan, atau dikenal juga sebagai Pasar Djati Asri—pasar tradisional yang hanya buka setiap Minggu Kliwon dalam penanggalan Jawa.
Terletak di tengah rindangnya hutan jati, Pasar Klataan menghadirkan nuansa pedesaan tempo dulu.
Lapak-lapak yang terbuat dari bambu dengan atap jerami menambah kesan alami dan unik.
“Dulu kan ini termasuk kawasan 'merah', dalam artian menurut masyarakat luas itu daerah yang buruk," jelas Haryanto, ketua panitia sekaligus penggagas acara.
"Kami punya ide untuk membuat kegiatan positif yang nantinya bisa memperbaiki citra kampung,” imbuh dia.
Pasar Klataan menghadirkan sekitar 30 lapak yang menjajakan beragam kuliner khas Jawa.
Seperti sego tiwul, jenang grendul, soto garing, gendar pecel, hingga sego jagung, dengan harga ramah kantong mulai Rp3.000.
Lebih dari sekadar pasar, kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan dan pelestarian budaya Jawa.
“Pasar Minggu Kliwon ini bukan hanya menggerakkan ekonomi, tapi juga jadi wadah berkumpul masyarakat lewat kegiatan sosial dan budaya,” lanjut Haryanto.
Ia menyebut, pasar ini telah mendapatkan dukungan dari Disporapar Boyolali, bahkan pernah dikunjungi oleh duta Mas dan Mbak Boyolali.
“Kami sudah kirim surat ke Disporapar, dan Alhamdulillah dapat respons baik. Harapannya, pasar ini bisa masuk agenda resmi dinas,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Banaran, Giyanto, mengaku senang karena kegiatan tersebut membuka peluang usaha bagi warga.
“Dengan adanya pasar ini, warga kampung bisa berjualan. Pengunjungnya pun tidak hanya dari Banaran, tapi juga dari luar daerah,” kata Giyanto.
Ia berharap Pasar Klataan bisa terus berlanjut dan berkembang sebagai salah satu ikon budaya Boyolali.
“Meskipun hanya sebulan sekali, ini bisa jadi daya tarik wisata yang unik dan berkesinambungan,” pungkasnya. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono