RADARSOLO.COM-Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat 5 kasus kematian ibu hamil selama semester pertama 2025.
Kasus tersebut tersebar di 5 kecamatan dengan penyebab bervariasi.
Kepala Dinkes Boyolali Puji Astuti menjelaskan, lima kasus kematian terjadi di Kecamatan Boyolali, Cepogo, Sawit, Wonosamudro, dan Kemusu.
Di Kecamatan Sawit dan Wonosegoro, kematian disebabkan oleh preeklampsia.
Sementara itu, di Boyolali, ibu hamil meninggal akibat leptospirosis.
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Leptospira.
Kerap ditularkan melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan terinfeksi, terutama tikus.
Di Cepogo, kasus kematian ibu hamil diakibatkan oleh Dengue shock syndrome, dan di Kemusu, ibu hamil mengalami autoimun.
Puji menekankan pentingnya deteksi dini ibu hamil dengan risiko tinggi (risti).
Selain itu, ibu hamil risti juga harus senantiasa mendapat pendampingan dari kader di bawah pengawasan bidan.
Puji berharap jumlah kasus kematian ibu hamil di Boyolali tidak melebihi 8 kasus dalam setahun.
Dinkes telah bekerja semaksimal mungkin, dan hasilnya cukup signifikan.
Baca Juga: Baru 500 Hektare Lahan Pertanian Padi di Boyolali yang menggunakan Metode Organik
Kematian ibu hamil pada semester I 2025 turun lebih dari 50% dibandingkan 2024 yang mencapai di atas 10 kasus.
Dinkes Boyolali menganjurkan ibu hamil untuk melakukan 6 kali pemeriksaan ANC (Antenatal Care).
Meliputi: satu kali di trimester pertama, tiga kali di trimester kedua, dan dua kali di trimester ketiga, atau bisa lebih jika diperlukan. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono