RADARSOLO.COM-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada.
Meskipun masih dalam musim kemarau, fenomena cuaca global yang disebut "kemarau basah" membuat wilayah Boyolali masih sering diguyur hujan lebat disertai angin kencang.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Boyolali Suratno menjelaskan, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau sebenarnya terjadi pada Juli hingga Agustus.
"Dari prakiraan ini dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kemarau tahun ini termasuk kemarau basah," jelas Suratno pada Rabu (20/8).
Ia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi bencana, terutama terhadap pohon-pohon yang rawan tumbang.
"Masyarakat agar waspada dan siap siaga, dan mitigasi pohon-pohon yang rawan roboh," pesannya.
Untuk itu, Suratno menyarankan warga untuk memangkas dahan, mengurangi daun yang terlalu rimbun, atau menebang pohon tinggi yang berpotensi membahayakan.
Permintaan Dropping Air Bersih Menurun Drastis
Fenomena kemarau basah ini membawa dampak positif, yaitu menurunnya permintaan dropping air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD, Suparman, menjelaskan bahwa hingga saat ini baru ada sekitar 14 permintaan dropping air.
"Belum ada lagi sejak terakhir minggu lalu, itu di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Tamansari," jelas Suparman, Selasa (19/8/2025).
Permintaan ini jauh berkurang dibandingkan kemarau tahun lalu yang mencapai 175 tangki. Bahkan, jumlahnya tidak sebanding dengan kemarau tahun 2023 yang mencapai lebih dari 1.500 tangki. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono