RADARSOLO.COM- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali belum berencana menambah luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau area publik baru pada 2025.
Fokus utama DLH saat ini adalah melakukan pemeliharaan taman dan area publik yang sudah ada.
Kepala DLH Boyolali Suraji menjelaskan, area publik di wilayah Boyolali, khususnya di kota, dinilai masih memadai.
Namun, tahun ini akan ada rencana induk (masterplan) untuk hutan kota Kridanggo.
Hutan kota yang saat ini terkesan kumuh tersebut akan dibenahi.
"Tahun ini akan ada masterplan untuk hutan kota Kridanggo. Hutan kota itu kan terkesan kumuh, sebenarnya tidak masalah, namanya juga hutan, tapi karena di kota, kita akan benahi,” jelas Suraji belum lama ini.
Konsep Ecorepair dan Rencana Jangka Panjang
Rencananya, bagian utara hutan kota yang berbatasan dengan Sungai Kaligede akan dibuka.
Suraji menjelaskan, ini dilakukan agar muka sungai terlihat dari hutan kota.
“Prinsipnya, kalau sungai itu di belakang, pasti akan digunakan sebagai tempat pembuangan, tapi kalau dibuka pasti dipelihara,” terangnya.
Konsep ini dinamakan ecorepair, yaitu memperbaiki area sungai agar tidak dijadikan tempat pembuangan limbah.
Saat ini, kondisi hutan kota Kridanggo memang kurang terawat, dengan banyak kandang hewan yang kosong dan rusak serta tempat duduk yang kotor.
Hanya tersisa satu kandang berisi dua rusa yang masih terawat.
Suraji menambahkan, pada tahun 2026, DLH akan membuat masterplan untuk penataan kawasan alun-alun dan kompleks perkantoran kabupaten.
Hingga saat ini, di sekitar Kota Boyolali sudah terdapat beberapa taman dan area publik, seperti Taman Soekarno, Taman Kalpataru, Taman Pandan Alas, Taman Pandan Arum, dan Hutan Kota Kridanggo. (fid/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono