RADARSOLO.COM-Dinamika yang dihadapi pemerintah dalam melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG) sangat beragam.
Mulai dari menu yang diduga basi, gejala keracunan, dan terbaru di Boyolali dapur MBG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 002 Siswodipuran Boyolali berhenti sementara.
SPPG 002 Siswodipuran tidak mendistribusikan menu MBG ribuan pelajar di Boyolali sejak Rabu (17/9/2025).
Kepala Regional Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Provinsi Jawa Tengah Reza Mahendra membenarkan penghentian sementara pendistribusian MBG oleh SPPG setempat.
Reza mengatakan, penghentian distribusi MBG karena terdapat kendala pencairan dana untuk SPPG Siswodipuran 002 Boyolali.
"Setelah saya dalami itu ada error system untuk pencairan dana," ujar Reza saat dihubungi wartawan, Rabu (17/9/2025).
Reza menjelaskan, sesuai keterangan dari pihak bank, pengelola SPPG setempat salah memasukkan password saat akan melakukan pencairan.
Namun saat ini permasalahan tersebut sudah selesai, dan Kamis (18/9/2025), Reza memastikan SPPG Siswodipuran 002 bisa kembali beroperasi.
“Kami mendengar seperti ini, kami langsung turun, yang bersangkutan kepala regional Boyolali mengatakan besok (Kamis) akan kembali operasi,” tambahnya.
Dampak Penghentian dan Antusiasme Siswa Terhadap Menu MBG
Sementara itu, Kepala SDN 1 Siswodipuran Boyolali Sri Sulasmi menjelaskan, bahwa sudah dua hari sekolahnya tidak menerima jatah MBG.
Biasanya sekitar pukul 08.00, kendaraan operasional SPPG Siswodipuran 002 Boyolali sudah datang untuk mengantarkan jatah MBG.
Pada Senin (15/9) kemarin, ia mendapat informasi secara lisan dari pengurus SPPG bahwa MBG berhenti sementara.
Menurut Sri Sulasmi, MBG sangat membantu memenuhi kebutuhan siswa, mereka juga bisa request menu makanan.
"Anak-anak makannya sesuai selera, bahkan anak bisa request namun tidak langsung besoknya, tetapi beberapa hari kemudian baru direspons,” jelasnya.
Setelah mendapat informasi penghentian sementara program MBG, pihaknya kemudian berkomunikasi dengan orang tua siswa melalui paguyuban wali murid di setiap kelas.
“Dengan berhentinya program MBG ini tentu berdampak bagi siswa, terutama siswa kelas besar,” pungkasnya. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono