RADARSOLO.COM- Beberapa petani cabai di Kecamatan Banyudono, Boyolali mengelus dada.
Hasil panen banyak membusuk dan kering akibat diserang hama.
Kondisi itu disebabkan serangan hama lalat buah dan cuaca ekstrem.
Martini, salah satu petani cabai di Banyudono, mengatakan, sudah dua bulan terakhir kebun cabai miliknya diserang hama lalat buah.
“Banyak yang jadi patek (cabai kering), karena disesep (dihisap) lalat buah, juga awalnya karena cuaca, jadi hamanya muncul,” jelas Martini kepada radarsolo.com, Kamis (18/9/2025).
Martini mengatakan, sebelum diserang hama, dari 550 meter persegi lahan yang ditanam cabai, dia bisa mendapat 30 kilogram (kg) cabai untuk satu kali panen.
Namun, setelah diserang hama, Martini hanya bisa mendapat 1,5 kg cabai.
“Awalnya cuma busuk sedikit, terus jadi kering, tidak bisa dijual, karena sudah tidak layak,” tambahnya.
Hama Merajalela, Petani Merugi Meski Harga Cabai Naik
Mulanya, lalat buah menggigit sebagian cabai yang sudah hampir panen.
Setelah itu, cabai akan berangsur membusuk kemudian mengering.
Cabai yang sudah rusak bisa merembet ke cabai lain apabila tidak segera dipetik.
Harsoyo, petani lainnya mengaku lahan miliknya juga diserang hama lalat buah.
Sebelumnya, dia bisa memanen sekitar 1 kuintal cabai, kini hanya bisa mendapat 10 kg.
Dari satu tanaman cabai, pasti ada setidaknya 10-15 cabai rusak akibat ulah lalat buah.
“Kondisinya merosot sekali tahun ini, hama itu kalau nyesep lombok ini langsung geseng (busuk), terus rontok,” jelasnya.
Padahal, saat ini harga cabai sedang naik. Namun, petani tetap merugi akibat hasil panen yang jauh berkurang akibat hama.
Harsoyo mengatakan, harga cabai dari petani Rp25 ribu per kg. Sebelumnya harga cabai berkisar antara Rp15 ribu - Rp20 ribu per kg.
Harsoyo menambahkan, saat ini petani belum mempunyai solusi untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cabai.
“Sudah diobati juga tidak mempan, mau diapakan juga tetap sama, ya sementara seperti ini saja,” pungkasnya. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono