Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Boyolali Disebut sebagai Market Bencana, Wabup Boyolali: Relawan Harus Tingkatkan Kapasitas Diri

Abdul Khofid Firmanda Putra • Senin, 29 September 2025 | 20:26 WIB
Pengukuhan 534 relawan perwakilan tiap desa/kelurahan oleh Wabup Boyolali Dwi Fajar untuk menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi di kabupaten setempat, Senin (29/9/2025).
Pengukuhan 534 relawan perwakilan tiap desa/kelurahan oleh Wabup Boyolali Dwi Fajar untuk menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi di kabupaten setempat, Senin (29/9/2025).

RADARSOLO.COM-Ratusan relawan tangguh bencana dikukuhkan Wakil Bupati Boyolali, Dwi Fajar Nirwana, Senin (29/9/2025).

Hal itu guna memperkuat peran relawan dalam penanggulangan bencana.

Selain itu, relawan menjadi bagian tim reaksi cepat non aparatur yang berfungsi sebagai garda terdepan dalam penyampaian informasi awal bencana dan penghubung komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah.

534 relawan perwakilan tiap desa/kelurahan tersebut dikukuhkan untuk menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi di Kabupaten Boyolali.

Fajar menjelaskan, peran relawan sangat penting yang menjadi garda terdepan untuk melakukan reaksi cepat ketika terjadi bencana alam.

“Pesan saya kepada relawan tangguh, karena menurut perkiraan BMKG, tahun 2025-2026 musim penghujan akan berlangsung lebih lama, untuk itu, kepada relawan agar terus meningkatkan kapasitas diri, dan koordinasi, serta menumbuhkan sadar bencana di lingkungan,” bebernya.

Wabup Janjikan Jaminan Kesehatan, BPBD Boyolali Fokus Paradigma Preventif dan Mitigasi

Fajar berharap, setiap desa mempunyai relawan yang siap siaga menanggulangi bencana serta memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang budaya sadar bencana.

Selain itu, Wabup berjanji para relawan mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah kabupaten (Pemkab) Boyolali.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Suratno menjelaskan, saat ini jumlah total relawan Boyolali sekitar 3.000 personel.

“Harapannya bisa menjadi jembatan terutama di dalam mengomunikasikan hal-hal apa yang perlu dilakukan ketika ada potensi bencana ada di wilayah, serta bisa langsung berada di lokasi bencana,” jelas Suratno.

Baca Juga: Kenalkan Potensi Wisata Petualangan di Klaten, Bupati Hamenang Ajak Ratusan Crosser Jelajahi Lereng Merapi

Relawan juga akan mendapatkan bimbingan terkait penguatan serta kapasitas berupa materi tentang kebencanaan.

Suratno mengatakan, saat ini paradigma penanggulangan bencana sudah bergeser dari awalnya paradigma reaktif, yakni bergerak setelah terjadi kebencanaan, menjadi paradigma preventif, yang mengandalkan mitigasi serta kesiapsiagaan personel sebelum bencana.

“Sehingga, dengan seluruh masyarakat dan para relawan memahami bagaimana mitigasi yang harus dilakukan, pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dari waktu ke waktu menjadi lebih baik dan lebih baik,” bebernya.

Boyolali "Market Bencana": Erupsi Merapi, Banjir, Longsor, dan Hidrometeorologi

Terkait peta bencana di wilayah Boyolali Suratno mengungkapkan, Boyolali merupakan market bencana.

Mulai dari erupsi Gunung Merapi, banjir, longsor, serta bencana hidrometeorologi akibat dampak dari perubahan iklim ketika musim kemarau berupa kebakaran, longsor, dan banjir saat hujan.

Ke depan, relawan juga akan mendapat pelatihan khusus terkait kebencanaan sebagai antisipasi penanggulangan bencana. (fid)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#mitigasi #bencana #Dwi Fajar Nirwana #pengukuhan #wabup boyolali #relawan