Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Debit Air Surut, Warga Manfaatkan Tepian Waduk Cengklik Boyolali untuk Bercocok Tanam

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 1 Oktober 2025 | 02:00 WIB
Petani tanami tepian Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali dengan beragam tanaman.
Petani tanami tepian Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali dengan beragam tanaman.

RADARSOLO.COM-Menyusutnya debit air Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Boyolali selama musim kemarau dimanfaatkan sebagian warga.

Mereka menjadikan lahan setempat untuk areal persawahan.

Salah satunya yang dilakukan Harjo. Pria 66 tahun itu sudah puluhan tahun menggarap pinggiran Waduk Cengklik menjadi persawahan.

Harjo terlebih dahulu membersihkan tanaman eceng gondok yang tumbuh di petak-petak sawah yang sebelumnya sudah dibentuk.

“Kalau mau digarap, harus dibersihkan dulu, karena yo tumbuh di sawahnya, dikumpulkan, terus dibakar,” jelas Harjo, Selasa (30/9/2025).

Harjo mengaku menggarap area kosong di waduk seluas 1,7 hektar.

Dari luas tersebut, Harjo bisa menghasilkan berton-ton hasil panen.

Untuk tanaman yang ditanam berupa padi, singkong, serta kacang tanah.

Panen Hanya Sekali Setahun Saat Kemarau, Petani Hadapi Risiko Gagal Panen Akibat Air Naik

Karena hanya bisa digarap saat musim kemarau, para petani bisa sewaktu-waktu menanam di waduk.

Biasanya petani hanya bisa menanam satu kali dalam setahun. Sebab, jika sudah memasuki musim penghujan, debit air akan naik, dan lahan pertanian yang digarap akan terendam air.

“Kalau bejo ya bisa 2 kali panen, tapi sekarang 1 kali juga Alhamdulillah, soalnya masih banyak air, jadi tanamnya telat,” ujarnya.

Baca Juga: Dampak Kemarau Meluas Di Sukoharjo, Tiga Kecamatan Kekeringan: Ribuan Jiwa Krisis Air Bersih

Warsito, 64, warga lainnya mengatakan, menggarap sawah di area waduk lebih mudah sebab ketersediaan air melimpah.

“Tanahnya yo gampang digarap, empuk, tidak keras koyo (seperti) tanah sawah biasanya,” beber Warsito.

Namun, apabila air sudah mulai naik, petani harus merelakan tanamannya terendam air dan harus pasrah mengalami gagal panen.

Warsito menambahkan, karena hanya bisa ditanam saat musim kemarau, bertani di area Waduk Cengklik hanya digunakan sebagai sampingan.

“Sebenarnya lebih suka di sini (Waduk Cengklik), soalnya lebih gampang, tapi sayangnya tidak bisa terus-terusan, apalagi sekarang panasnya sedikit,” tambah Warsito.

Selain itu, Warsito menuturkan menggarap sawah tidak lepas dari serangan hama.

Di Waduk Cengklik, hama yang menyerang umumnya tikus. (fid/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Boyolali #Waduk Cengklik #Bertani #bercocok tanam #persawahan