Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Abah Lala dan Seniman Boyolali Geruduk Polres Klaten, Tuntut Keadilan Korban Penganiayaan Penabuh Kendang

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 1 Oktober 2025 | 19:28 WIB

Abah Lala bersama seniman Boyolali berkumpul di Alun-alun Kidul Boyolali sebelum berangkat ke Mapolres Klaten, Rabu (1/10/2025).
Abah Lala bersama seniman Boyolali berkumpul di Alun-alun Kidul Boyolali sebelum berangkat ke Mapolres Klaten, Rabu (1/10/2025).

RADARSOLO.COM- Aksi kekerasan terjadi di sebuah acara pesta pernikahan di Kabupaten Klaten.

Akibatnya, seorang penabuh kendang mengalami luka-luka setelah dianiaya beberapa orang.

Banyak pihak yang mengecam aksi pemukulan tersebut. 

Termasuk seniman asal Boyolali Abah Lala. Pemilik lagu “Ojo Dibandingke” itu merasa kasihan kepada korban pemukulan.

 

Baca Juga: Penabuh Kendang di Klaten Dianiaya saat Mengisi Resepsi Pernikahan, Polres Klaten Tetapkan Tiga Tersangka

“Kita sebagai seniman yang melakukan pekerjaan, tidak sesuai dengan upah yang kita terima, jadinya kita cari uang sedikit saja, berisiko dengan nyawa,” jelas Abah Lala, Rabu (1/10/2025).

Sebagai bentuk dukungan kepada korban, Abah Lala bersama puluhan seniman asal Boyolali mendatangi Polres Klaten.

Para seniman tersebut berangkat dari Boyolali dengan titik kumpul Alun-alun Kidul Boyolali, Rabu (1/10).

Abah Lala bersama rombongan berangkat dengan membawa tuntutan, salah satunya meminta pelaku diadili menurut undang-undang yang berlaku.

“Untuk memberikan efek jera, dan memberikan kenyamanan bagi para seniman. Besoknya lagi kan kalau sudah dihukum kan bisa membawa rasa nyaman bagi para seniman,” ujar pria bernama asli Agus Purwanto itu.

Diketahui, rekaman video aksi kekerasan terhadap seniman itu banyak beredar di media sosial, mayoritas menyayangkan aksi tidak manusiawi kepada pelaku seni tersebut.

"Berapa tho upah dari pelaku seni itu? Upah sedikit taruhan nyawa, mesakke ra tegel mas, nonton e ra tegel (kasihan tidak tega mas, lihatnya tidak tega)," tambahnya.

Abah Lala juga menekankan manajemen waktu yang harus ditepati oleh pihak penyelenggara.

Menurutnya, apabila selesai jam 12, harus selesai saat itu juga.

“Maksimal jam 12 itu harus selesai, cuma kemarin kan dari pihak penyelenggara kurang puas, akhirnya nambah jam, akhirnya kejadian seperti ini, harus menurut izin yang sudah ditetapkan dari pihak kepolisian,” pungkasnya. (fid/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Boyolali #klaten #polres #pemukulan #Abah Lala #penabuh kendang #penganiayaan