Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dinkes Boyolali Deteksi 1.097 Penderita TBC Hingga Oktober 2025, Masyarakat Masih Takut Diskrining

Abdul Khofid Firmanda Putra • Kamis, 16 Oktober 2025 | 20:48 WIB
Petugas Dinkes Boyolali melakukan skrining penyebaran penderita TBC (Tuberculosis).
Petugas Dinkes Boyolali melakukan skrining penyebaran penderita TBC (Tuberculosis).

RADARSOLO.COM- Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali terus melakukan skrining penyebaran penderita TBC (Tuberculosis).

Hingga Oktober, sudah 13 kecamatan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui penderita TBC.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Boyolali Teguh Tri Kuncoro mengatakan, data terbaru hingga 16 Oktober 2025, tercatat 1.097 penderita TBC terdeteksi di Boyolali.

Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 2.891 orang.

“Tahun 2024 ada 1.617 pasien penderita TBC yang berhasil dideteksi, sekitar 55-56 persen dari total data yang kami terima dari WHO,” jelas Teguh, Kamis (16/10).

Menurutnya, masih banyak penderita yang belum terdeteksi.

Itu karena masyarakat enggan, bahkan takut untuk melakukan skrining kesehatan.

Padahal, dengan melakukan skrining kesehatan, masyarakat bisa mengetahui penyakit yang tengah diderita.

“Padahal kan kalau terdeteksi, bisa langsung dilakukan pengobatan,” jelasnya.

TBC Disebabkan Bakteri Mycobacterium Tuberculosis, Gejala Batuk Berkepanjangan dan Berat Badan Turun

Teguh mengatakan, penyakit TBC berasal dari bakteri mycobacterium tuberculosis.

Kasus paling banyak, bakteri TBC menyerang organ paru-paru.

Gejala awal penderita TBC berupa batuk berkepanjangan, berkeringat tanpa aktivitas, berat badan turun, sampai hilangnya nafsu makan.

Selain menyerang paru-paru, bakteri TBC juga bisa menyerang organ lain. Seperti tulang, organ dalam, serta kulit.

“Mayoritas masyarakat malah lebih takut penyakit demam berdarah, padahal TBC itu penyebarannya lebih mudah, dan lebih berbahaya,” terangnya.

Teguh menambahkan, ada beberapa kalangan yang rawan tertular TBC.

Seperti penderita Diabetes Melitus (DM), penderita HIV, serta kawasan padat penduduk.

TBC biasanya menular melalui kontak seperti dahak dari batuk, air liur, serta bersin.

Hingga akhir 2025, Dinkes Boyolali menargetkan 25 kecamatan di seluruh Boyolali sudah dilakukan pemeriksaan TBC.

Editor : Tri wahyu Cahyono
#pasien #TBC #skrining #dinkes boyolali #penyakit menular