RADARSOLO.COM- Cuaca panas ekstrem yang tidak menentu di musim pancaroba bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali FX Kristandiyoko mengungkapkan, cuaca ekstrem terjadi akibat adanya pergeseran cuaca dan perubahan cuaca secara mendadak.
Akibatnya, banyak masyarakat yang menderita berbagai macam penyakit seperti batuk, pilek, influenza, serta diare.
"Khususnya untuk di saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Jadi karena ada yang kadang berubah-ubah, karena cuaca yang panas kadang hujan dan sebagainya," jelasnya, Minggu (26/10/2025).
Kristandiyoko menjelaskan, penyakit yang diakibatkan cuaca ekstrem, rentan menyerang anak-anak, orang dewasa, maupun lanjut usia.
Menurutnya, penyakit di cuaca ekstrem banyak terjadi akibat virus maupun bakteri yang menyerang saluran pencernaan dan saluran pernapasan.
"Tapi itu biasanya ke arah yang infeksi bakteri, jadi tergantung dari kondisinya. Nah itu juga perkara pola makan, dan asupan makan yang kurang sehat dan kurang bersih ," bebernya.
Kristandiyoko mengatakan, ia belum melihat data riil, sebaran masyarakat yang terjangkit penyakit selama cuaca ekstrem melanda wilayah Boyolali.
Beberapa wilayah di Boyolali yang terdampak cuaca panas ekstrem. Antara lain Kecamatan Juwangi, Kemusu, Banyudono, Teras, Klego, serta Kecamatan Mojosongo.
"Tapi waktu saya kunjungan ke Juwangi dan juga ke Kemusu kemudian ke Klego, sebenarnya cuacanya hampir sama, seperti di daerah selatan, di daerah Banyudono, Teras, Mojosongo, cuma yang membedakan mungkin curah hujannya agak tinggi di daerah utara," urai Kristandiyoko.
Dinkes Boyolali Gencarkan Program Skrining Kesehatan Dokter Spesialis pada 2026
Kristandiyoko menambahkan, pihaknya sudah mempunyai program tahun 2026 untuk menggencarkan program skrining kesehatan oleh dokter spesialis.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Boyolali Teguh Tri Kuncoro menjelaskan, suspek dengue, serta infeksi saluran pernapasan akut (Ispa) meningkat dari Minggu 37 sampai Minggu 41 tahun 2025.
Dari data yang ada, berdasarkan sebaran suspek penyakit dengue, banyak tercatat di daerah dataran rendah, dibandingkan dataran tinggi.
“Grafik penderita penyakit dengue di puskesmas dan rumah sakit di seluruh Boyolali, banyak tersebar di daerah seperti Boyolali kota, Kecamatan Simo, Karanggede, dan Sambi,” jelas Teguh, Selasa (21/10).
Namun, untuk sebaran ISPA, Teguh menjelaskan tidak ada perbedaan di dataran tinggi maupun dataran rendah.
Dari data yang ada, 4 puskesmas baik dari wilayah atas maupun wilayah bawah, sama-sama menunjukkan angka hampir sama.
Contohnya di Puskesmas Cepogo, tercatat 2.266 penderita ISPA, Puskesmas Juwangi mencatat ada 1.875 penderita, Puskesmas Klego II terdapat 2.181, serta Puskesmas Musuk sebanyak 2.321 penderita. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono