RADARSOLO.COM- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Geologi (BPPTKG) mencatat, Intensitas erupsi Gunung Merapi meningkat.
Tercatat, sebanyak 7 kali awan panas guguran, serta 19 kali guguran lava teramati pada Minggu (2/11/2025) yang mengarah ke Kali Krasak.
Bahkan, menurut BPPTKG, lontaran material selama awan panas guguran mencapai 2,5 kilometer dari puncak.
Guguran mengarah ke hulu Kali Sat atau Kali Putih, Kali Bebeng serta Kali Krasak, lontaran materialnya dari erupsi mencapai 2 kilometer.
Kemudian pada Senin (3/11/2025) dini hari, telah terjadi 2 kali awan panas guguran pukul 00.31 dan 00.37.
Guguran pertama terjadi pada pukul 00.31 yang berlangsung selama 146 detik, lalu pukul 03.37, guguran awan panas berlangsung selama 106 detik.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengungkapkan, peningkatan intensitas erupsi merupakan bagian dari perilaku erupsi Gunung Merapi sejak 2021.
Agus mengatakan, di musim hujan, intensitas erupsi cenderung meningkat, peningkatan tersebut akibat curah hujan yang tinggi dapat mengganggu kestabilan kubah lava Merapi.
"Erupsi terhitung intensif, kejadian guguran lava mencapai ratusan kali per hari diselingi awan panas seperti yang terjadi hari ini," jelas Agus.
Status Merapi Tetap Level 3, Potensi Bahaya Guguran Lava dan Awan Panas di Sektor Selatan-Barat Daya Hingga 7 KM
Namun, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi berada di level 3.
Status level 3 dipertahankan mengingat jarak luncur erupsi masih jauh dari kawasan pemukiman warga.
"Masyarakat tetap tenang sambil tetap menjaga kewaspadaannya," lanjutnya.
Potensi bahaya saat ini yang harus diwaspadai berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya meliputi Kali Boyong sejauh maksimal 5 km, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Sementara, pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Suratno mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan persiapan terkait aktivitas merapi.
“Kami mengimbau Destana (Desa Tanggap Bencana), dengan TSD-nya (Tim Siaga Desa) untuk melaksanakan simulasi evakuasi mandiri,” jelas Suratno. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono