RADARSOLO.COM-Kerusakan parah pada jalan penghubung di Dukuh Grijo, Desa Jagoan, Kecamatan Sambi, Boyolali memicu aksi protes dari warga.
Sebagai bentuk kekecewaan, puluhan spanduk bernada sindiran dan beberapa pohon pisang ditanam di tengah lubang jalan.
Pantauan radarsolo.jawapos.com, spanduk-spanduk tersebut bertuliskan protes keras. Seperti “Selamat dan Sukses atas Terlaksananya Penanaman Pohon Pisang untuk Ketahanan Pangan”.
“Iki tanggung jawab sopo! Hormat kami, warga Indonesia”.
Baca Juga: Safari Gemarikan Di Sukoharjo, Bagikan 700 Paket Ikan Untuk Dukung Penurunan Stunting
Ada pula yang meniliskan “Sopo nandur bakal ngunduh” (Siapa menanam akan memetik hasilnya).
Penanaman pohon pisang di jalan rusak kali pertama dilakukan Minggu (14/12/2025), saat warga kerja bakti.
Selain sebagai bentuk protes, pohon pisang tersebut berfungsi sebagai penanda agar warga dan pengendara berhati-hati saat melintasi jalan cor yang rusak parah di beberapa titik.
Baru Dibangun 2024 Menggunakan Dana Desa Senilai Rp 100 Juta
Jalan cor selebar 4 meter tersebut merupakan akses utama baru bagi warga Dukuh Grijo, karena dinilai lebih memangkas waktu daripada harus memutar di jalan lama.
Sekretaris Desa (Sekdes) Jagoan Yulius Andre membenarkan bahwa jalan tersebut merupakan jalan baru yang dibangun pada 2024 menggunakan Dana Desa sebesar Rp 100 juta.
"Itu jalan baru, karena memang ada permintaan warga untuk mempersingkat jalan. Jadi kita buka jalan baru, di antara kebun tebu,” jelas Yulius Andre, Selasa (16/12).
Menurut sumber radarsolo.jawapos.com, kerusakan jalan mulai terlihat setelah sering dilewati truk pengangkut pasir.
Baca Juga: Cek Bansos Desember 2025: Link Cek Status Penerima Desil DTSEN via HP, Hanya Modal NIK KTP
"Itu jalan baru dibuat sebelum Lebaran 2024. Setelah ada jalan baru sering dilewati truk pengangkut pasir. Padahal dulu truk pasir enggak lewat situ," ungkap salah satu warga.
Yulius Andre juga tidak menampik adanya aktivitas truk pengangkut pasri yang melewati jalan tersebut.
Dia menduga, kerusakan jalan disebabkan oleh faktor tanah, ditambah kondisi musim hujan. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono