RADARSOLO.COM–BPBD Boyolali mencatatkan tren positif dalam penanganan bencana sepanjang tahun 2025.
Data terbaru menunjukkan penurunan jumlah kejadian bencana yang cukup signifikan sebesar 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Keberhasilan ini diklaim sebagai buah dari penguatan upaya mitigasi, baik secara struktural maupun non-struktural, serta respon cepat para relawan di lapangan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali Suparman memaparkan, perbandingan data kebencanaan yang menunjukkan perbaikan kondisi di wilayah Boyolali:
- Jumlah Kejadian: Tahun 2025 tercatat 157 kejadian, turun dari 232 kejadian pada tahun 2024 (berkurang 75 kejadian).
- Kerugian Materiil: Mengalami penurunan drastis dari Rp754 juta di tahun 2024 menjadi Rp276,8 juta di tahun 2025.
- Jenis Bencana Dominan: Masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti angin puting beliung, tanah longsor, banjir, serta dampak turunan berupa pohon tumbang dan rumah roboh.
Meskipun secara frekuensi kejadian menurun, BPBD memberikan catatan pada jumlah warga yang terdampak yang justru mengalami kenaikan dari 498 jiwa menjadi 687 jiwa, dengan total 4 korban jiwa.
Hal ini memicu BPBD untuk terus memperketat langkah-langkah mitigasi di masa depan.
Upaya mitigasi yang akan diperkuat meliputi:
- Struktural: Penguatan lereng, normalisasi sungai, drainase, serta pemangkasan pohon rawan tumbang.
- Sistem Peringatan Dini: Peningkatan akurasi peringatan dini cuaca ekstrem dan penyusunan rencana kontinjensi di wilayah rawan.
- Kesiapsiagaan Masyarakat: Pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) serta rutin menggelar pelatihan dan simulasi evakuasi.
"Penurunan angka bencana ini dipengaruhi menurunnya intensitas cuaca ekstrem dan meningkatnya kesiapsiagaan aparatur serta relawan. Namun, kewaspadaan dini masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak," jelas Suparman, Rabu (7/1/2026). (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono