RADARSOLO.COM- Biaya kesehatan yang tinggi seringkali menjadi beban berat bagi masyarakat.
Terutama saat menghadapi penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Namun, hal itu berbeda dirasakan oleh Endang Sri Mulyati, 58, warga Kampung Karangwetan, Kelurahan Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali.
Endang menceritakan pengalamannya menjalani pengobatan saraf terjepit yang dialaminya.
Berkat kepesertaan aktif dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan, ia berhasil melewati masa-masa sulit tersebut tanpa kendala terkait biaya pengobatan.
Riwayat pengobatan Endang dimulai pada 2022. Saat itu Ia harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Banyubening akibat saraf kejepit. Sebagai peserta kelas 1, ia mengaku seluruh biaya perawatannya dijamin sepenuhnya.
“Saya sempat dirawat di RSUI Banyubening selama 4 hari dengan kepesertaan kelas 1. Kalau saya hitung-hitung jika tidak ada program JKN yang mengcover biaya yang timbul juga lumayan menguras kantong. Syukur Alhamdulillah semuanya ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” ujar Endang, Selasa (13/1/2026).
Lebih lanjut, ia tidak terbayang sebelumnya kalau harus menggunakan uang pribadi.
Kekhawatiran terkait biaya pengobatannya terhapus berkat adanya program JKN tersebut.
Proses pemulihan yang dijalani Endang untuk pengobatan saraf kejepit melalui terapi begitu panjang.
Meski begitu, ia merasa tenang karena tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk setiap sesi terapi.
“Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, saya tidak tahu bagaimana saya bisa membayar semua pengobatan itu. Saya sempat merasa frustasi, karena rasa sakit yang luar biasa," terang Endang.
Baca Juga: Jaga Integritas Layanan JKN, BPJS Kesehatan Gelar INAHAFF Conference Libatkan 6 Negara Mitra
"Tapi akhirnya saya bisa kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasa yang merupakan nikmat sehat yang luar biasa dan sangat disyukuri,” imbuhnya.
Rasa sakit yang luar biasa memang sempat membuat Endang merasa putus asa.
Namun, akses layanan kesehatan yang mudah membuatnya konsisten berobat hingga kini bisa kembali produktif.
Endang menekankan bahwa sakit tidak dapat diprediksi, sehingga memiliki jaminan kesehatan adalah sebuah keharusan.
Terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini.
“Semoga pelayanan BPJS Kesehatan terus ditingkatkan untuk peserta JKN dan masyarakat makin sadar pentingnya memiliki jaminan Kesehatan. Karena di zaman sekarang ini segala sesuatunya belum bisa kita prediksi entah kapan sehat dan kapan sakitnya, tidak ada yang tahu,” beber dia.
Selain jaminan biaya, Endang juga mengapresiasi transformasi digital yang dilakukan BPJS Kesehatan.
Ia mengaku telah memanfaatkan fitur-fitur di aplikasi Mobile JKN, mulai dari pendaftaran antrean online hingga pengecekan status kepesertaan.
Menurutnya, inovasi tersebut sangat membantu peserta karena layanan kesehatan kini bisa diakses hanya melalui smartphone.
"Sekarang semuanya semakin mudah karena kini sudah serba online. Layanan yang diberikan BPJS Kesehatan menjadi mudah diakses pesertanya dimana saja dan kapan saja. Semoga kedepannya terus semakin baik dan terus hadir ditengah masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Endang.(ren)
Editor : Tri wahyu Cahyono