RADARSOLO.COM–Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan kembali membuktikan eksistensinya sebagai jaring pengaman sosial yang penting bagi masyarakat Indonesia.
Manfaat tersebut dirasakan secara mendalam oleh Dewi Novrianti, 50, seorang karyawan swasta asal Surowedanan, Pulisen, Boyolali.
Ia menceritakan bagaimana program tersebut menjadi tumpuan utama bagi kesembuhan ibu mertuanya.
Ditemui di sela-sela kegiatan BPJS Keliling pada Selasa (20/01/2026), Dewi tampak antusias membagikan perjalanan medis keluarga besarnya.
Fokus utama ceritanya tertuju pada sang ibu mertua, Sumarni, 80, yang harus berhadapan dengan penyakit batu empedu sejak tahun 2022.
Bagi keluarga Dewi, JKN bukan sekadar kartu kepesertaan, melainkan kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan.
Ia menceritakan bahwa sang ibu mertua sudah lama mengandalkan program JKN untuk berbagai keluhan kesehatannya.
Sebelum didiagnosa menderita batu empedu, Sumarni kerap menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk penyakit-penyakit ringan yang sering menyerang lansia.
“Sudah lama sekali mertua saya berobat menggunakan program JKN. Mulai dari urusan penyakit ringan seperti batuk, flu, atau demam, semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya pada tahun 2022, dokter mendiagnosa adanya batu empedu,” ujar Dewi, Selasa (20/1/2026).
Sejak saat itu, mertuanya rutin menjalani pengobatan untuk mengontrol kondisinya.
Berkat penanganan dokter dan akses JKN, kondisi ibu mertuanya kini berangsur-angsur membaik dan stabil.
Baca Juga: Kisah Endang Lawan Saraf Terjepit: Berkat Program JKN, Biaya Pengobatan Dijamin Penuh BPJS Kesehatan
Seringkali muncul keraguan di masyarakat mengenai kualitas layanan pasien BPJS. Namun, pengalaman Dewi justru mematahkan stigma tersebut.
Ia mengaku sangat puas dengan dedikasi tenaga medis dan fasilitas rumah sakit yang merawat ibu mertuanya. Mulai dari tahap awal pemeriksaan hingga masa perawatan pasca-tindakan.
Salah satu hal yang paling diapresiasi Dewi adalah kemudahan dalam mendapatkan obat-obatan.
Masalah stok obat kosong yang sering dikhawatirkan pasien tidak dirasakannya sama sekali oleh Dewi
“Pelayanan tenaga medisnya luar biasa baik sejak awal saya mengantarkan ibu. Rumah sakit sangat responsif memenuhi kebutuhan medis kami. Bahkan untuk urusan obat-obatan, semuanya selalu tersedia di bagian farmasi atau apotek,” ujarnya.
Lebih jauh, Dewi menyentuh aspek finansial yang seringkali menjadi momok bagi masyarakat saat harus menghadapi tindakan operasi.
Biaya pengangkatan batu empedu bukanlah angka yang kecil, terutama di tengah situasi ekonomi saat ini.
Bagi seorang karyawan swasta seperti Dewi, menanggung biaya tersebut secara mandiri tentu akan sangat menguras tabungan.
“Jujur saja, jika harus berobat secara mandiri tanpa bantuan JKN, saya akan sangat kesulitan dan terbebani secara finansial. Biaya operasi dan perawatan intensif itu sangat besar," ujarnya.
"Oleh karena itu, saya merasa sangat beruntung dan bersyukur menjadi bagian dari peserta JKN. Program ini benar-benar membantu meringankan beban biaya operasi ibu mertua saya hingga tuntas,” imbuh Dewi.
Ia berharap pengalamannya dapat menginspirasi orang lain untuk tidak ragu mendaftarkan diri dan keluarga dalam program JKN.
Menurutnya, program tersebut adalah bentuk gotong royong yang harus dijaga keberlangsungannya melalui kepesertaan yang aktif.
“Saya selalu mengingatkan teman dan keluarga untuk memastikan status kepesertaan tetap aktif meskipun saat ini merasa sehat. Ibarat pepatah, kita harus sedia payung sebelum hujan. Jangan sampai saat sudah sakit baru bingung mencari jaminan kesehatan,” ujar Dewi. (ren)
Editor : Tri wahyu Cahyono