RADARSOLO.COM–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali menerbitkan peringatan dini terkait potensi ancaman bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan data BMKG, sebesar 80 persen wilayah Boyolali diprediksi memasuki puncak musim penghujan pada Januari dan Februari 2026, yang meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
Langkah mitigasi mulai diperketat seiring dengan dinamika cuaca ekstrem yang melanda wilayah selatan Pulau Jawa hingga Bali.
Strategi Mitigasi dan Monitoring Ketat
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Suratno menjelaskan, pihaknya telah mengaktifkan berbagai lini strategi untuk meminimalkan dampak pascabencana.
Sosialisasi masif dilakukan agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan mandiri.
“Kami melakukan monitoring nonstop melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) ke wilayah-wilayah yang berpotensi diguyur hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama. Hal ini sangat krusial karena kejenuhan tanah dalam menahan air dapat memicu terjadinya longsor sewaktu-waktu,” urai Suratno, Selasa (20/1/2026).
Teknologi EWS dan Normalisasi Sungai
Sebagai langkah teknis, BPBD telah memasang Early Warning System (EWS) di titik-titik rawan longsor untuk memberikan peringatan dini kepada warga.
Selain itu, upaya pencegahan banjir luapan dilakukan melalui normalisasi sungai dan pembersihan sedimen.
Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi adalah tumpukan sampah rumpun bambu yang kerap tumbuh di bantaran sungai.
“Sebagian besar banjir luapan terjadi akibat penumpukan sampah dan sedimentasi. Banyak rumpun bambu yang tumbang dan menyumbat aliran sungai, inilah yang kami fokuskan untuk dibersihkan,” tambah Suratno.
Fokus Penanganan Bencana 2026
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali Suparman menegaskan, sepanjang tahun 2026, fokus utama anggaran dan personel akan diarahkan pada penanganan bencana hidrometeorologi.
“Kami fokus pada tiga ancaman utama: banjir, tanah longsor, serta angin kencang. Kesiapan logistik dan personel TRC (Tim Reaksi Cepat) dipastikan dalam kondisi siaga penuh menghadapi puncak musim hujan ini,” tegas Suparman.
Masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BPBD dan segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda awal pergerakan tanah atau luapan sungai di lingkungan masing-masing. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono