RADARSOLO.COM – Melimpahnya hasil panen pepaya di Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo, Boyolali tidak lagi hanya berakhir sebagai pakan ternak.
Di tangan kreatif Wahyu Nugraheni (43) atau yang akrab disapa Yuni, buah pepaya mentah bertransformasi menjadi aneka produk turunan bernilai ekonomi tinggi yang kini merambah pusat oleh-oleh di Yogyakarta hingga Jawa Barat.
Perjalan Olah Pepaya Menjadi Produk Premium
Yuni memulai langkahnya pada tahun 2020.
Saat itu, ia merasa prihatin melihat melimpahnya pepaya di desanya yang kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh warga.
Padahal, hampir setiap rumah di Karangnongko memiliki pohon pepaya.
"Dulu hasilnya hanya untuk pertanian atau pakan ternak. Karena bahan bakunya sangat mudah didapat dan melimpah, saya mulai berpikir untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang berbeda," ujar Yuni saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (22/1/2026).
Produk pertama yang ia kembangkan adalah abon pepaya.
Tekstur pepaya mentah yang rendah kadar air dan tidak mudah hancur menjadi keunggulan utama dalam proses pengolahan.
Kini, varian produknya telah berkembang pesat meliputi:
- Olahan Kering: Abon pepaya, kripik pepaya, pepaya mustofa, sale, dan manisan kering.
- Olahan Basah: Dodol, manisan basah, dan permen.
- Bakery: Cake dan roti berbahan dasar pepaya.
Pasar Meluas hingga Permintaan "Hampers"
Berawal dari sekadar menitipkan barang di warung-warung tetangga, produk olahan Yuni kini telah naik kelas.
Baca Juga: Profil Lengkap KGPA Tedjowulan, Kini Resmi Jadi Plt Keraton Solo Usai Geger Konflik Dua Raja
Ia telah memiliki jaringan reseller tetap yang menyuplai pusat oleh-oleh di Yogyakarta, hotel-hotel berbintang, hingga memenuhi pesanan hampers premium.
"Abon pepaya tetap menjadi primadona. Dalam sebulan, permintaan bisa mencapai 150 kilogram. Untuk harga sangat terjangkau, mulai dari Rp 15 ribu untuk kemasan kecil hingga Rp 40 ribu untuk kemasan besar," tambahnya.
Dalam sekali produksi, Yuni mampu menghabiskan hingga 20 buah pepaya ukuran jumbo.
Meskipun produksi tidak dilakukan setiap hari, ia memastikan kualitas produk tetap terjaga dengan memproduksi 2 hingga 3 kali seminggu sesuai pesanan yang masuk.
Menjadi Mentor Pemberdayaan Perempuan
Keberhasilan Yuni tidak dinikmatinya sendiri. Ia kini aktif membagikan ilmunya melalui berbagai pelatihan pengolahan pangan.
Mulanya, ia hanya melatih ibu-ibu PKK di tingkat desa, namun kini Yuni sering diundang sebagai pembicara di tingkat kabupaten.
Melalui pelatihan ini, Yuni berharap masyarakat Mojosongo tidak lagi menjual pepaya dalam bentuk buah mentah dengan harga murah.
Melainkan mampu mengolahnya secara mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui UMKM kreatif. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono