RADARSOLO.COM-Wajah ikonik Kabupaten Boyolali, kawasan Simpang Lima (Simpang Siaga), bakal semakin cantik dan artistik.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali memastikan proyek penataan lanjutan kawasan ini akan dimulai pada Maret 2026 dengan kucuran anggaran senilai Rp5,6 miliar.
Kepala DLH Boyolali Suraji mengungkapkan, fokus pembangunan tahun ini adalah menyulap kawasan tersebut menjadi ruang publik yang lebih fungsional dan estetis.
Dua menu utama pembangunan adalah Plaza Kridanggo dan pemasangan relief di terowongan (tunnel).
“Kegiatan DLH nanti fokus di lingkungan Simpang Siaga dan sekitarnya. Ini meliputi penataan lahan, taman, penyempurnaan tunnel, hingga pembuatan plaza,” jelas Suraji, Senin (2/2/2026).
Rincian Anggaran Rp 5,6 Miliar
Suraji merinci, total anggaran tersebut dibagi ke dalam dua pos kegiatan besar:
- Pengembangan Lingkungan RTH Simpang Siaga: Rp 2,55 miliar.
- Revitalisasi RTH Taman Sonokridanggo: Rp 3,05 miliar.
Plaza Seni dan Terowongan Tembaga
Salah satu daya tarik baru nantinya adalah Plaza Kridanggo.
Plaza ini akan dibangun di area Taman Kota Sonokridanggo (sisi barat SPBU), bukan di hutan kota.
Konsepnya berupa pelataran terbuka yang sedikit lebih tinggi dari jalan, namun tetap mempertahankan area hijau di sekitarnya.
“Plaza ini didesain sebagai ruang publik yang bisa digunakan untuk pentas seni, baik musik maupun pertunjukan lainnya,” tuturnya.
Asisten 2 Sekda Boyolali Ahmad Gojali menambahkan detail menarik terkait terowongan bawah tanah.
Dinding tunnel penyeberangan tidak akan dibiarkan polos, melainkan akan dihiasi diorama relief.
“Reliefnya akan kita ambil langsung dari pengrajin tembaga Tumang, Kecamatan Cepogo. Jadi ciri khas Boyolali-nya kental. Selain itu, jalur tunnel juga akan disempurnakan agar lebih ramah difabel,” jelas Gojali.
Taman Tengah Dipangkas
Perubahan fisik juga akan menyasar taman di tengah Simpang Siaga (area Patung Kuda).
Ketinggian tanah taman tersebut akan dipangkas dan disesuaikan agar sejajar dengan jalur pedestrian yang baru direvitalisasi.
“Akan ada pemindahan tanah dan penataan ulang. Sebagian besar akan berupa area terbuka dengan rumput hijau, namun tanaman peneduh yang sudah ada tetap kita pertahankan,” pungkas Suraji. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono