RADARSOLO.COM-Masyarakat lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali memiliki cara istimewa dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Melalui tradisi Sadranan, mereka mengubah suasana kompleks pemakaman menjadi panggung silaturahmi akbar yang bahkan lebih meriah dibandingkan perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Ritual tahunan yang digelar setiap bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa ini bukan sekadar ziarah, melainkan perwujudan akulturasi budaya dan simbol kemakmuran warga.
Filosofi Tenong dan Jamuan untuk Perantau
Pemandangan paling mencolok dalam Sadranan di Sukabumi adalah iring-iringan warga, terutama para perempuan, yang menyunggi Tenong di atas kepala.
Tenong merupakan wadah berbentuk bulat yang berisi nasi gurih, lauk-pauk, hingga aneka jajanan tradisional hasil olahan sendiri.
Maskhuri, tokoh masyarakat Desa Sukabumi menuturkan, isi tenong dipersiapkan sebagai bentuk penghormatan bagi sanak saudara yang pulang dari perantauan.
"Sadranan adalah momentum kumpul keluarga untuk mendoakan leluhur. Istilahnya bulan Ruwah itu untuk mendoakan arwah. Kami menyuguhkan makanan terbaik dalam tenong untuk keluarga yang datang dari jauh," jelas Maskhuri, Rabu (4/2/2026).
Ritual Doa dan "Open House" Massal
Setelah prosesi doa bersama yang dipimpin tokoh agama di area pemakaman selesai, warga melakukan makan bersama. Isi tenong menjadi ajang berbagi antar pengunjung yang hadir.
Kemeriahan tidak berhenti di makam. Setiap rumah di Desa Sukabumi menggelar open house.
Saudara, teman, hingga tamu dari luar daerah dipersilakan mampir untuk makan bersama dan bersilaturahmi.
"Bagi kami, Sadranan itu justru lebih ramai dari Lebaran. Semua keluarga besar berkumpul di sini. Ada kepercayaan kalau banyak saudara berkunjung, maka rezeki akan terus mengalir lancar," ujar Ratna, salah satu warga setempat.
Simbol Gotong Royong yang Tak Lekang Zaman
Tradisi ini dipandang sebagai hasil akulturasi budaya yang dibawa oleh para penyiar agama di masa lampau untuk merekatkan ikatan sosial.
Di balik tumpukan makanan dan aroma mawar, tersimpan nilai gotong royong dan kepedulian antar sesama yang masih sangat kental.
Warga berharap tradisi ini terus lestari sebagai identitas lereng Merapi yang kuat akan nilai religi dan budaya, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga akar sejarah di tengah arus modernisasi. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono