RADARSOLO.COM - Sektor pertanian di Kabupaten Boyolali menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2025.
Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali mencatat adanya penurunan produksi padi yang cukup signifikan mencapai 26.170 ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Data Penurunan Luas Panen dan Produktivitas
Kepala Dispertan Boyolali Suyanta memaparkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan penurunan dari berbagai sisi:
- Total Produksi: Turun dari 279.950 ton (2024) menjadi 253.780 ton (2025).
- Luas Panen: Berkurang sekitar 5.700 hektare, dari 50.260 hektare menjadi 44.560 hektare.
- Produktivitas: Mengalami penyusutan tipis dari 5,56 ton/hektare menjadi 5,51 ton/hektare.
Tiga Faktor Utama Penyebab Penurunan
Menurut Suyanta, sedikitnya ada 3 faktor krusial yang saling berkelindan memengaruhi hasil panen petani Boyolali:
- Serangan Hama Masif: Hama tikus menjadi ancaman terbesar dengan luas serangan mencapai 883 hektare. Disusul penggerek batang seluas 240 hektare dan wereng batang cokelat sekitar 1 hektare.
- Anomali Cuaca: Tingginya curah hujan di tahun 2025 (kemarau basah) membuat proses fotosintesis tanaman tidak maksimal.
"Padi memang butuh air, tapi saat musim kemarau dengan sinar matahari yang cukup, hasil fotosintesis justru lebih maksimal dan hama lebih sedikit," jelas kepada radarsolo.jawapos.com, Rabu (4/2/2026).
Berkurangnya lahan sawah akibat pembangunan infrastruktur jalan tol serta kawasan pemukiman mempersempit ruang produksi.
Selain itu, diduga terjadi penurunan kualitas kesuburan tanah yang masih memerlukan penelitian unsur hara lebih lanjut.
Mengejar Target Ambisius 2026
Meski performa tahun 2025 menurun, Kementerian Pertanian memberikan target besar bagi Boyolali di tahun 2026.
Produksi padi diharapkan melonjak dari 253.780 ton menuju 310.000 ton (naik sekitar 60 ribu ton).
Baca Juga: Petani Di Sukoharjo Dilatih Terbangkan Drone Sprayer, Dorong Percepatan Modernisasi Pertanian
Untuk mencapai target tersebut, Dispertan Boyolali telah menyiapkan langkah antisipasi dan akselerasi:
- Perlindungan Tanaman: Penggunaan pestisida nabati, agensia hayati, hingga pemanfaatan predator alami seperti burung hantu (rubuha) untuk menangani hama tikus.
- Peningkatan Produksi: Distribusi benih unggul bersertifikat, pembangunan sumur dalam/irigasi perpompaan, serta modernisasi mekanisasi pertanian untuk mempercepat proses olah tanah hingga panen. (fid)