RADARSOLO.COM – Tradisi Sadranan di Kabupaten Boyolali bukan sekadar ritual tahunan menjelang Ramadhan.
Melainkan sebuah warisan peradaban kuno yang telah melintasi berbagai zaman.
Berakar dari masa Hindu-Buddha, tradisi ini tetap eksis sebagai identitas kultural masyarakat Jawa melalui proses akulturasi yang panjang dan harmonis.
Evolusi Makna: Dari "Sadara" Menjadi Sedekah
Tokoh masyarakat Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Maskhuri, mengungkapkan, hasrat untuk berkumpul dan menghormati leluhur telah ada sejak manusia menempati Nusantara.
Pada zaman Hindu dan Buddha, ritual ini dikenal dengan istilah Sadara yang berarti berdoa bersama dengan penuh rasa hormat.
"Pada dasarnya, manusia memiliki insting untuk menghormati asal-usulnya. Tradisi ini kemudian bertransformasi saat Islam masuk ke Nusantara melalui dakwah Walisongo," jelas Maskhuri kepada radarsolo.jawapos.com, Rabu (4/2/2026).
Sentuhan Walisongo dan Ketetapan Sultan Agung
Di tangan Walisongo, Sadranan tidak dihapus, melainkan diisi dengan nilai-nilai tauhid.
Prosesi doa bersama tetap dipertahankan, namun diarahkan sesuai ajaran Islam, di mana para wali memimpin doa dan memberikan pengajaran moral kepada masyarakat.
Transformasi istilah juga terjadi pada masa Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam.
Menetapkan bulan Sya'ban dalam penanggalan Hijriah dialihnamakan menjadi bulan Arwah atau Ruwah.
"Itulah sebabnya orang Jawa menyebutnya Ruwahan. Sebuah bulan khusus untuk mengingat, membersihkan diri, dan mendoakan para arwah leluhur sebelum memasuki bulan suci Ramadhan," tambah Maskhuri.
Ritual dan Nilai Sosial: Kebersamaan dalam Doa
Sadranan di Boyolali melibatkan serangkaian ritual yang sarat makna sosioreligius:
- Besik/Bubak: Gotong royong membersihkan makam leluhur secara massal.
- Punggahan: Aksi sedekah atau sodaqohan untuk mendoakan para leluhur.
- Kembul Bujana: Jamuan makan bersama dengan hidangan tradisional dalam tenong sebagai simbol kerukunan antarahli waris.
Baca Juga: Saat Islam dan Kristen Bersatu dalam Sadranan Desa Genting Boyolali, Seperti Ini Rukunnya
Tiga Esensi Utama Nyadran
Menurut Maskhuri, setidaknya ada tiga esensi utama yang dijaga dalam tradisi ini:
- Dimensi Ketuhanan: Mendoakan leluhur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
- Dimensi Penghormatan: Menghargai garis keturunan dan menjaga silaturahmi antarahli waris.
- Dimensi Pengingat: Meningkatkan kesadaran masyarakat akan kepastian datangnya kematian (mengingat mati).
Hingga saat ini, Sadranan di lereng Merapi-Merbabu tetap menjadi bukti nyata kebudayaan yang hidup (living culture), di mana nilai-nilai spiritualitas kuno dan modernitas dapat berjalan beriringan dalam satu nampan kebersamaan. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono