Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menelusuri Akar Sejarah Sadranan: Jejak Tradisi "Sadara" Hindu-Buddha hingga Transformasi Ruwahan Era Sultan Agung

Abdul Khofid Firmanda Putra • Minggu, 8 Februari 2026 | 06:00 WIB

Warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali tumpah ruah dalam tradisi Sadranan. Mereka membawa aneka makanan yang diwadahi tenong untuk disantap bersama.
Warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali tumpah ruah dalam tradisi Sadranan. Mereka membawa aneka makanan yang diwadahi tenong untuk disantap bersama.

RADARSOLO.COM – Tradisi Sadranan di Kabupaten Boyolali bukan sekadar ritual tahunan menjelang Ramadhan.

Melainkan sebuah warisan peradaban kuno yang telah melintasi berbagai zaman.

Berakar dari masa Hindu-Buddha, tradisi ini tetap eksis sebagai identitas kultural masyarakat Jawa melalui proses akulturasi yang panjang dan harmonis.

Evolusi Makna: Dari "Sadara" Menjadi Sedekah

Tokoh masyarakat Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Maskhuri, mengungkapkan, hasrat untuk berkumpul dan menghormati leluhur telah ada sejak manusia menempati Nusantara.

Pada zaman Hindu dan Buddha, ritual ini dikenal dengan istilah Sadara yang berarti berdoa bersama dengan penuh rasa hormat.

"Pada dasarnya, manusia memiliki insting untuk menghormati asal-usulnya. Tradisi ini kemudian bertransformasi saat Islam masuk ke Nusantara melalui dakwah Walisongo," jelas Maskhuri kepada radarsolo.jawapos.com, Rabu (4/2/2026).

Sentuhan Walisongo dan Ketetapan Sultan Agung

Di tangan Walisongo, Sadranan tidak dihapus, melainkan diisi dengan nilai-nilai tauhid.

Prosesi doa bersama tetap dipertahankan, namun diarahkan sesuai ajaran Islam, di mana para wali memimpin doa dan memberikan pengajaran moral kepada masyarakat.

Transformasi istilah juga terjadi pada masa Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam.

Menetapkan bulan Sya'ban dalam penanggalan Hijriah dialihnamakan menjadi bulan Arwah atau Ruwah.

Baca Juga: Tradisi Sadranan Boyolali Dimulai: Ratusan Warga Musuk Bawa Tenong ke Makam, Doakan Leluhur Jelang Ramadhan

"Itulah sebabnya orang Jawa menyebutnya Ruwahan. Sebuah bulan khusus untuk mengingat, membersihkan diri, dan mendoakan para arwah leluhur sebelum memasuki bulan suci Ramadhan," tambah Maskhuri.

Ritual dan Nilai Sosial: Kebersamaan dalam Doa

Sadranan di Boyolali melibatkan serangkaian ritual yang sarat makna sosioreligius:

Baca Juga: Saat Islam dan Kristen Bersatu dalam Sadranan Desa Genting Boyolali, Seperti Ini Rukunnya

Tiga Esensi Utama Nyadran

Menurut Maskhuri, setidaknya ada tiga esensi utama yang dijaga dalam tradisi ini:

Hingga saat ini, Sadranan di lereng Merapi-Merbabu tetap menjadi bukti nyata kebudayaan yang hidup (living culture), di mana nilai-nilai spiritualitas kuno dan modernitas dapat berjalan beriringan dalam satu nampan kebersamaan. (fid)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Kerajaan Mataram Islam #puasa #buddha #moral #tradisi sadranan #sadranan boyolali #sultan agung #bulan arwah #hindu #ruwahan #ramadhan #mendoakan leluhur #sejarah