RADARSOLO.COM–Tradisi Sadranan di lereng Gunung Merapi, khususnya di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, kembali menunjukkan esensinya sebagai magnet sosial yang luar biasa.
Memasuki pertengahan bulan Sya'ban (Ruwah), perayaan ini menjelma menjadi ajang silaturahmi akbar yang diklaim jauh lebih meriah dibandingkan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Meski awalnya berfokus pada ziarah kubur, kini Sadranan telah bertransformasi menjadi pesta rakyat yang mempererat persaudaraan lintas kalangan.
Silaturahmi Tanpa Sekat: Lebih Besar dari Lebaran
Kepala Desa Cepogo Mawardi mengungkapkan, Sadranan di wilayahnya telah menjadi agenda sosial yang sangat masif.
Jika Lebaran biasanya identik dengan keluarga inti, Sadranan justru menarik massa dari berbagai latar belakang untuk berkumpul di satu titik.
"Tradisi Sadranan saat ini untuk acara silaturahmi justru lebih besar dibanding Lebaran. Karena yang datang benar-benar dari semua kalangan, tidak hanya keluarga," ungkap Mawardi, Kamis (5/2/2026).
Mawardi mencatat, lebih dari 95 persen masyarakat di desanya menggelar open house.
Mereka membuka pintu rumah selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi, lengkap dengan suguhan jajanan dan masakan besar selayaknya suasana Idul Fitri.
Ekonomi Nyadran: Dana Rp 4 Juta per Rumah
Di balik kemeriahan tersebut, tersimpan komitmen ekonomi yang luar biasa dari warga setempat.
Bagi masyarakat Cepogo, menjamu tamu dalam momen Sadranan adalah bentuk investasi spiritual dan sosial.
Salah seorang warga mengungkapkan, rata-rata satu kepala keluarga mengeluarkan biaya antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta hanya untuk menyajikan hidangan dalam satu kali perayaan Sadranan.
"Kami tidak merasa keberatan, karena ada kepercayaan bahwa banyaknya saudara yang berkunjung akan membuat rezeki terus mengalir lancar. Tamu yang datang itu kami maknai sebagai pembawa pintu rezeki," ucapnya.
Mempersiapkan Diri Menuju Ramadan
Secara historis, Sadranan dimulai sekitar tanggal 10 Ruwah hingga akhir bulan, dengan jadwal yang bergantian antar desa sesuai kepercayaan setempat.
Selain aspek sosial, esensi utamanya tetap terjaga: membersihkan makam leluhur (besik) dan memanjatkan doa bersama.
Melalui Sadranan, warga Boyolali tidak hanya membersihkan "rumah" para leluhur, tetapi juga membersihkan hati melalui silaturahmi massal sebelum menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono