RADARSOLO.COM– Di antara rimbunnya ilalang dan bangunan pabrik di wilayah Dukuh Ngablak, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali, terdapat dua bongkah batu raksasa yang menyimpan sejuta misteri.
Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Watu Gong. Bukan sekadar tumpukan batu mati, melainkan dipercaya sebagai batas antara dunia fana dengan alam gaib.
Lokasinya yang terpencil, tepat di bibir jurang Kali Pepe, menambah kesan magis yang menyelimuti kawasan ini.
Alunan Gamelan Gaib di Malam Jumat
Nama "Watu Gong" tidak disematkan karena bentuk fisiknya yang menyerupai alat musik gong.
Melainkan karena fenomena auditori yang sering dialami warga.
Konon, batu itu merupakan perwujudan gaib dari sebuah gong besar.
Suyatno, salah satu warga Desa Kebonbimo menceritakan, pada masa lalu, lokasi setempat kerap mengeluarkan suara misterius.
"Warga di sini sering mendengar alunan gamelan lengkap, layaknya musik pengiring wayang kulit. Biasanya suara itu terdengar pada malam Jumat," ungkapnya kepada radarsolo.jawapos.com.
Sosok Ular Besar dan Perburuan Pusaka
Mitos yang menyelimuti Watu Gong tidak berhenti pada suara gamelan saja.
Keyakinan tentang keberadaan entitas gaib sebagai "penunggu" situs ini sudah mengakar kuat.
Warga meyakini kawasan tersebut dihuni oleh sesosok ular raksasa.
"Tapi bukan ular biasa. Hanya orang-orang tertentu yang 'dikehendaki' yang bisa melihat penampakan sosok tersebut," tambah Suyatno.
Daya tarik mistis ini pun memikat para pemburu benda pusaka.
Tak jarang, orang-orang dari luar daerah datang ke Watu Gong dengan harapan menemukan keris pusaka atau watu aji yang diyakini terpendam di sana sebagai azimat keberuntungan.
Harapan Pelestarian di Tengah Modernisasi
Kondisi Watu Gong saat ini mulai memprihatinkan karena tertutup semak belukar.
Struktur batu yang bertumpuk tersebut hanya bisa terlihat jelas jika dipandang dari sisi depan.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keinginan untuk menjaga kelestarian batu tersebut.
"Boleh percaya atau tidak dengan mitosnya, tapi batin saya ingin tempat ini tetap terjaga. Setidaknya diberi pagar agar strukturnya tidak hilang tertutup ilalang," tuturnya.
Keberadaan Watu Gong menjadi pengingat bahwa di tengah deru mesin pabrik dan modernisasi, masyarakat Boyolali masih memiliki ruang-ruang spiritual yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas lokal mereka. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono