RADARSOLO.COM–Di tengah kawasan wisata Pemandian Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu kejayaan Keraton Kasunanan Surakarta.
Masjid Cipto Mulyo yang berusia 121 tahun bukan sekadar tempat salat, melainkan simbol harapan dan doa dari penguasa Surakarta pada masanya.
Diresmikan sekitar tahun 1905 Masehi Pakubuwana (PB) X, masjid ini mulanya bernama Masjid Karangduwet sebelum akhirnya diganti dengan nama yang lebih filosofis.
Filosofi di Balik Nama dan Pintu Lima
Imam Masjid Cipto Mulyo Ahmadi Harjono mengungkapkan, nama "Cipto Mulyo" diberikan langsung oleh Sinuhun PB X dengan doa yang sangat mendalam.
"Cipto Mulyo berarti diciptakan agar mulia. Harapannya, siapa pun yang beribadah di sini akan mendapatkan kemuliaan, baik di dunia maupun akhirat. Alhamdulillah, sejak berdiri sampai sekarang, jamaahnya terus mengalir, seolah keberkahan itu tidak pernah putus," ujar Ahmadi, Minggu (22/2/2026).
Salah satu ciri khas arsitektur yang mencolok adalah keberadaan lima pintu utama.
Menurut Ahmadi, jumlah ini bukan sekadar estetika, melainkan representasi dari Rukun Islam dan kewajiban salat lima waktu.
"Pintu lima itu pengingat agar kita tidak lupa salat lima waktu; Isya, Subuh, Luhur, Asar, dan Magrib. Itu digambarkan lewat pintu masuk utama agar jamaah selalu ingat kewajibannya," tambahnya.
Restorasi Tanpa Menghilangkan Jati Diri
Meski telah berusia lebih dari satu abad, bangunan masjid tetap terjaga berkat serangkaian renovasi.
Unsur asli bangunan tetap dipertahankan meskipun material atap telah mengalami beberapa kali perubahan sesuai perkembangan zaman, mulai dari sirap kayu yang kini telah berganti menjadi sirap asbes.
Baca Juga: Sambut HPSN dan Jateng Asri, DLH Boyolali Gencarkan Gerakan Ramadhan Minim Sampah
“Tembok dan bagian depan masjid terus dirawat melalui inisiatif swadaya takmir dan jamaah. Sementara lantai merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Prinsipnya, renovasi tidak mengubah bentuk asli untuk menjaga karakteristik khas keraton,” jelas Ahmadi.
Daya Tarik Magis dan Keberkahan
Bagi jamaah setempat maupun pendatang, Masjid Cipto Mulyo memiliki daya tarik spiritual tersendiri.
Bambang, salah satu jamaah setia, mengaku selalu merasakan ketenangan berbeda saat bersujud di masjid peninggalan raja Keraton Solo tersebut.
"Masjid ini paling tua di daerah ini. Ada semacam unsur magis atau aura keberkahan yang terasa lebih kuat karena nilai sejarahnya. Beribadah di sini juga menjadi cara kami melestarikan warisan Sinuhun PB X," tutur Bambang.
Setiap hari, masjid ini tidak pernah sepi. Ratusan jamaah dari berbagai wilayah silih berganti mengunjungi masjid, terutama saat momentum bulan Ramadan, menjadikannya pusat syiar Islam yang tetap relevan melintasi abad. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono