RADARSOLO.COM- Anggota Polsek Boyolali Kota menggelar patroli di kawasan Simpang Siaga guna memastikan kamtibmas tetap kondusif.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (28/2/2026) sekaligus mengantisipasi aktivitas pemuda yang bermain petasan dan menggunakan knalpot brong.
Penyisiran di sekitar lokasi dilakukan mulai pukul 05.30 hingga 06.45.
Wakapolsek Boyolali Kota Ipda Hery Suryanto menekankan kepada jajarannya agar pelaksanaan tugas dilakukan secara humanis, mengutamakan keselamatan, dan menghindari tindakan yang kontraproduktif.
Pendekatan Persuasif
Dalam patroli tersebut, petugas memberikan imbauan kepada para pemuda yang sedang berkumpul agar tidak menyalakan petasan maupun menggunakan knalpot brong yang dapat mengganggu kenyamanan warga.
Hery menjelaskan, kegiatan ini merupakan langkah preventif kepolisian dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat, khususnya pada waktu subuh hingga pagi hari.
Setelah mendapatkan arahan dari petugas, kelompok pemuda di kawasan Simpang Siaga membubarkan diri secara tertib.
Selama kegiatan patroli berlangsung, polisi tidak menemukan adanya penggunaan petasan dan situasi secara umum terpantau aman.
Antisipasi Fenomena Perang Sarung
Selain menertibkan petasan dan knalpot brong, patroli ini juga ditujukan untuk mengantisipasi potensi tawuran atau perang sarung yang kerap terjadi selama bulan Ramadhan.
Di wilayah Boyolali, telah beberapa kali ditemukan kasus perang sarung antar kelompok remaja.
Sebagian pelaku telah berhasil diamankan dan diberikan pembinaan agar tidak kembali mengulangi perbuatan yang membahayakan keselamatan tersebut.
Kapolres Boyolali, Indra Maulana Saputra menyatakan, maraknya aksi perang sarung menjadi perhatian serius pihak kepolisian.
Hal tersebut ia sampaikan usai menghadiri rapat koordinasi lintas sektoral di Pendopo Ageng Boyolali, Senin (23/2/2026).
Indra menyebut fenomena perang sarung sebagai kebiasaan buruk yang berulang dan berpotensi menimbulkan dampak serius bagi para pelakunya maupun masyarakat sekitar.
Praktik berbahaya ini dapat menimbulkan korban luka ringan, luka berat, hingga risiko hilangnya nyawa, sehingga kepolisian menegaskan bahwa kebiasaan tersebut harus dihapuskan dari wilayah Boyolali. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono