RADARSOLO.COM - Warga Dukuh Ngledok, Desa Gumukrejo, Teras, Boyolali, kembali menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragama.
Hal ini terlihat dari antusiasme warga lintas agama, baik Hindu, Islam, maupun Kristen, yang membaur memeriahkan pawai ogoh-ogoh menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Gumukrejo Joko Suparji menjelaskan, pawai ini merupakan rangkaian ibadah untuk menyucikan diri.
Terdapat dua patung raksasa yang diarak, yakni Bakhasura dan Aristhasura, yang menyimbolkan keburukan.
Puncak acara ditandai dengan pembakaran kedua ogoh-ogoh tersebut.
"Maknanya adalah membakar sifat angkara murka, iri dengki, dan kejahatan yang harus dimusnahkan dari dalam diri kita," ungkap Joko.
Selain patung raksasa, pawai juga dimeriahkan dengan arak-arakan tiga gunungan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran.
Usai diarak keliling desa, gunungan tersebut langsung menjadi rebutan warga sekitar yang sudah antusias menunggu di pinggir jalan.
Joko menambahkan, perayaan Nyepi tahun ini mengusung tema Vasudewa Kutumbakam yang berarti seluruh dunia adalah satu keluarga.
Tema ini sangat relevan dengan kondisi Dukuh Ngledok, di mana pemeluk tiga agama berbeda bisa hidup berdampingan secara damai dan saling membantu.
"Kita semua adalah saudara walaupun berbeda keyakinan. Kita adalah keluarga besar Tuhan," pungkasnya. (fid)
Editor : Tri wahyu Cahyono