RADARSOLO.COM - Lebaran yang biasanya dirayakan oleh manusia, di Dukuh Mlambong juga dirayakan oleh hewan ternak.
Di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, ratusan ternak sapi diarak warga mengelilingi kampung.
Hewan-hewan itu diarak dalam rangka lebaran sapi, Sabtu (28/3).
Ternak seperti sapi, kambing, serta domba dikumpulkan di tengah jalan lalu diarak bersama sama.
Baca Juga: Persiapan Kupatan di Pengging Boyolali: Ramai-ramai Berburu Selongsong Ketupat yang Sudah Dianyam
Ketua panitia acara, Marjono mengungkapkan, arak arakan sapi selalu dirayakan setiap tanggal 8 di bulan Syawal, pada penanggalan islam.
Perayaan bakdan sapi biasanya dilangsungkan berbarengan dengan lebaran ketupat.
Pagi sebelum arak arakan ternak, warga melakukan kenduri ketupat di jalan kampung, lalu memakan hidangan ketupat bersama-sama.
“Ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena nikmat dari tuhan. Mayoritas warga disini yang banyak menjadi peternak, jadi sebagai bentuk rasa syukur, diadakan lebaran ketupat,” jelas Maryono, Sabtu (28/3).
Sebelum diarak, sapi terlebih dahulu dimandikan menggunakan air kembang, serta dioleh wewangian.
Menurut Marjono, perawatan tersebut dipercaya bisa membuat sapi birahi, lalu beranak, sehingga menambah rejeki.
Dia melanjutkan, arak-arakan sapi sudah berlansung sejak ratusan tahun lalu.
Tepatnya saat ajaran islam masuk ke Desa Sruni yang dibawakan oleh Kyai Anwar Siraj.
“Jadi kalau sesuatu itu dimuliakan, ya mendukung dan menghadiahi apa yang memuliakan. Ya itu filosofi, siapa yang berbuat baik, dapat baik, kita berbaik kepada sapi, Sapi memberi kebaikan kepada kita,” lanjutnya.
Dulunya, warga secara pribadi menggelar arak-arakan sapi, dengan mengarak keliling kampung sendiri-sendiri.
Waktunya pun tidak berbarengan, tergantung pemilik ternak.
Tradisi arak arakan sapi yang digelar secara bersama-sama, baru dimulai kurang lebih 25 tahun lalu.
Saat ini, bakdan sapi sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi daya tarik warga hingga luar Boyolali.
Salah satunya Theresa, 22, warga Yogyakarta yang sengaja datang ke Sruni bersama beberapa kawannya.
Dia mengaku mendapat informasi adanya tradisi lebaran sapi saat mendapat pekerjaan di Kota Solo.
“Memang sengaja mau lihat festival ini (Bakdan Sapi). Seru banget sih, jujur. Melihat sapi ada yang besar, ada yang kecil, tadi hampir kena sapi juga,” ujarnya.
Dia mengaku baru kali ini melihat tradisi lebaran sapi. Dia berharap, tradisi ini bisa terus dilestarikan, karena bisa mempererat hubungan antar warga.
Saat perayaan, sapi diarak dibelakang gunungan hasil bumi dari warga sekitar. Setelah diarak, gunungan diserbu ratusan warga yang sudah menunggu.
Keceriaan menghiasi kegiatan tradisi arak-arakan bakdan sapi Desa Sruni. Saat diarak, beberapa pemilik menunggangi ternaknya. Bahkan ada yang sampai berdiri diatas sapi.
Meskipun bernama arak-arakan sapi, namun ada ternak lain yang turut diarak, seperti kambing, serta domba.(fid)
Editor : Nur Pramudito