Si Makmur Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Ramadhan

Tradisi Unik Bakdan Sapi Boyolali, Ratusan Ternak Ikut “Lebaran” Diarak Keliling Kampung

Abdul Khofid Firmanda Putra • 2026-03-28 14:23:48
Warga Sruni di Boyolali mengarak ternak keliling kampung dalam tradisi Bakdan Sapi, Sabtu (28/3/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)
Warga Sruni di Boyolali mengarak ternak keliling kampung dalam tradisi Bakdan Sapi, Sabtu (28/3/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Pagi itu, jalan kampung di Dusun Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, tak hanya dipenuhi manusia yang bersilaturahmi. Ratusan sapi, kambing, dan domba ikut “berlebaran”, berjalan beriringan dalam arak-arakan yang menjadi tradisi turun-temurun.

Warga menyebutnya Bakdan Sapi—sebuah perayaan yang digelar setiap tanggal 8 Syawal, bertepatan dengan momen Lebaran Ketupat. Bagi masyarakat setempat, ini bukan sekadar tradisi, melainkan wujud syukur atas rezeki yang selama ini datang dari ternak yang mereka pelihara.

Baca Juga: ​Ribuan Warga Padati Bukit Sidoguro, Tradisi Grebeg Syawal Klaten 2026 Berlangsung Meriah

Sejak pagi, warga sudah berkumpul di jalan kampung. Mereka menggelar kenduri, menyantap ketupat bersama dalam suasana guyub. Tak lama berselang, satu per satu ternak dibawa keluar kandang, dikumpulkan, lalu diarak mengelilingi kampung.

Namun sebelum itu, ada ritual kecil yang sarat makna. Sapi-sapi dimandikan dengan air kembang, diberi wewangian, dan diperlakukan layaknya tamu istimewa.

Ketua panitia, Marjono, menjelaskan bahwa perlakuan tersebut bukan tanpa alasan. Warga percaya, memuliakan ternak akan mendatangkan kebaikan.

Baca Juga: Ribuan Pemudik Ikut Balik Bareng Honda 2026, 1.006 Peserta Diberangkatkan ke Jakarta dengan Fasilitas Lengkap

“Ini bentuk rasa syukur. Mayoritas warga di sini peternak, jadi rezekinya dari sapi. Kalau kita berbuat baik, nanti juga akan kembali ke kita,” ujarnya, Sabtu (28/3).

Keyakinan itu tumbuh dari nilai-nilai yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu, saat ajaran Islam mulai masuk ke Desa Sruni melalui tokoh setempat, Kyai Anwar Siraj. Sejak saat itu, tradisi memuliakan ternak menjadi bagian dari budaya masyarakat.

Menariknya, dahulu arak-arakan ini dilakukan secara mandiri oleh masing-masing pemilik ternak. Waktunya pun tidak serempak. Baru sekitar 25 tahun terakhir, tradisi ini dikemas menjadi perayaan kolektif yang melibatkan seluruh warga.

Kini, Bakdan Sapi bukan hanya milik warga Sruni, tetapi juga menjadi magnet bagi pengunjung dari luar daerah.

Di antara kerumunan, tampak Theresa (22), yang datang dari Yogyakarta. Ia mengaku penasaran setelah mendengar cerita tentang tradisi unik ini.

“Seru banget. Ini pertama kali saya lihat. Sapinya besar-besar, tadi bahkan hampir kena,” katanya sambil tertawa.

Arak-arakan semakin meriah saat ternak-ternak berjalan di belakang gunungan hasil bumi. Sayur, buah, dan berbagai hasil panen disusun menjulang, menjadi simbol kemakmuran.

Begitu arak-arakan usai, gunungan itu langsung diserbu warga. Suasana riuh berubah menjadi pesta kecil yang penuh tawa dan kegembiraan.

Di sepanjang perjalanan, ada pemandangan yang tak biasa. Beberapa warga menunggangi sapi mereka, bahkan ada yang berdiri di atas punggung ternak, menambah semarak suasana.

Meski dinamai Bakdan Sapi, hewan lain seperti kambing dan domba juga ikut diarak, memperkuat kesan bahwa perayaan ini adalah milik seluruh peternak.

Di tengah modernisasi yang terus bergerak, tradisi ini tetap bertahan—menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dan alam, termasuk dengan hewan ternak, bukan sekadar ekonomi, tetapi juga budaya dan rasa syukur. (fid)

Editor : Kabun Triyatno
#BAKDAN SAPI #lebaran #ketupat #ternak #rezeki #tradisi