Petugas Damkar Boyolali semprotkan disinfektan dicampur busa ke arah pohon yang jadi sarang ulat bulu di kawasan Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, Senin (30/3/2026). (Abdul Khofid/Radar Solo)RADARSOLO.COM – Teror serangan ulat bulu belum usai menghantui warga Boyolali.
Setelah sehari sebelumnya menyerang permukiman warga di Kecamatan Teras, kali ini ribuan ulat bulu muncul di kawasan Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan (HTB SP) Maria Boyolali, Senin (30/3/2026).
Gegerkan Panitia Persiapan Paskah
Gangguan hama ulat bulu ini pertama kali disadari dan dilaporkan oleh salah seorang pengurus gereja.
Kala itu, pihak panitia tengah sibuk mempersiapkan berbagai pernak-pernik untuk menyambut perayaan Paskah yang akan segera tiba.
Saking banyaknya populasi ulat yang bersarang, pemandangan tersebut dijamin membuat merinding siapa saja yang tidak terbiasa melihatnya.
Mengingat ribuan ulat tampak bergerombol rapat dan menggeliat secara bersamaan di batang pohon.
Bahkan, hampir seluruh daun pada pohon tersebut dilaporkan rontok habis akibat rakusnya koloni ulat bulu.
Racik Campuran Busa dan Insektisida
Menerima laporan kegawatdaruratan sekitar pukul 14.00 WIB, tim Damkar Satpol PP Kabupaten Boyolali langsung merespons cepat.
Sekitar pukul 15.30 WIB, personel Damkar sudah tiba di lokasi dan langsung turun tangan untuk membasmi gerombolan hama yang menguasai pohon beringin di halaman depan kompleks gereja tersebut.
Baca Juga: Hasil Musrenbag Pemkot Solo Dikritisi, Ini Beberapa Catatan DPRD
Anggota Rescue Damkar Boyolali Sri Wiyatno yang berada di lokasi mengungkapkan bahwa timnya melakukan penyemprotan menggunakan perpaduan air, busa sabun (foam), dan cairan insektisida khusus pembasmi ulat.
Sri Wiyatno menjelaskan, secara teknis bahwa pencampuran dengan busa sabun sengaja dilakukan agar cairan pembasmi dapat menempel lebih lama pada media pohon.
Sementara itu, cairan insektisida khusus ditambahkan agar koloni ulat tersebut bisa segera mati secara efektif.
Benar saja, tak lama setelah seluruh bagian pohon beringin disemprot secara merata, ribuan ulat bulu tersebut langsung berjatuhan tak bernyawa. Lebih lanjut, ia menduga bahwa periode saat ini merupakan musim puncak perkembangbiakan ulat sebelum memasuki fase perubahan menjadi kepompong.
Amankan Jemaat dari Reaksi Gatal
Tindakan evakuasi dan pembasmian ini dinilai sangat krusial demi kelancaran dan kekhusyukan ibadah keagamaan mendatang.
"Evakuasi ini dilakukan agar nanti saat perayaan Paskah, para jemaat tidak terganggu oleh banyaknya ulat bulu. Karena bulu ulat ini sangat beracun dan apabila tersentuh kulit bisa menyebabkan reaksi gatal-gatal yang cukup parah," pungkas Sri Wiyatno. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono