RADARSOLO.COM-Wilayah Indonesia berpotensi terdampak fenomena alam El Nino yang bisa memicu rentetan cuaca panas ekstrem hingga kekeringan panjang.
Merespons ancaman tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mengimbau masyarakat, khususnya kalangan petani, untuk mulai menyesuaikan jadwal tanam agar tanaman terhindar dari fase kritis kekeringan.
Langkah Antisipasi dan Rekomendasi Pertanian
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Suratno mengungkapkan, masyarakat dapat meminimalisasi dampak El Nino dengan melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Dari sektor kebencanaan pangan dan lingkungan, BPBD Boyolali mengeluarkan sejumlah panduan krusial, antara lain:
-
Beralih ke tanaman palawija atau memilih varietas dengan siklus tanam pendek dan lebih tahan kekeringan.
-
Melakukan penyesuaian jadwal tanam secara cermat.
-
Memaksimalkan pemanenan air hujan pada embung maupun sumur selagi curah hujan masih turun.
-
Mengoptimalkan pengelolaan tata air irigasi dan sumur resapan.
-
Melakukan pemantauan dini terhadap potensi serangan hama dan penyakit tanaman.
-
Meningkatkan kesiapsiagaan peralatan dan logistik guna menghadapi ancaman kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Baca Juga: Kasus Pembunuhan di Tangkil Sragen Terungkap, Sandiwara Korban Hamil 8 Minggu Berujung Maut
"Selama curah hujan masih ada, masyarakat perlu melakukan pemanenan air secara maksimal. Masyarakat harus menggunakan air secukupnya dan dengan bijak," jelas Suratno kepada radarsolo.jawapos.com, Kamis (2/4/2026).
Prediksi Kemarau 2026 dan Catatan Sejarah
Suratno juga meminta masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan prediksi BMKG dan institusi global, fenomena El Nino diperkirakan akan berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun 2026. Berikut adalah rincian proyeksi iklim pada tahun ini:
-
Awal Musim Kemarau: Mulai bulan Mei 2026 (dengan sifat hujan di bawah normal).
-
Puncak Musim Kemarau: Terjadi pada periode Juli hingga Agustus 2026.
-
Durasi Musim Kemarau: Berlangsung selama 16–21 dasarian (5 hingga 7 bulan).
-
Intensitas El Nino: Diprediksi berada pada level lemah hingga moderat.
Baca Juga: Antar Penumpang Pria ke Sambi, Tukang Ojek Asal Mojosongo Boyolali Dilaporkan Hilang
Meski pasokan curah hujan dipastikan berkurang, dampaknya diprediksi tidak akan seekstrem kejadian Super El Nino pada tahun 1997 dan 2015, maupun El Nino Kuat pada 1991 dan 2023 silam yang membawa kekeringan sangat parah.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Ekuator. Bergerak dari sekarang, maka dampak besar akan bisa kita tekan. Kemarau panjang adalah ujian kesiapan kita sebagai satu komunitas yang tangguh," pungkasnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono