Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Harga Kedelai Tembus Rp10.500 per Kg, Perajin Tempe di Boyolali Terpaksa Siasati Pangkas Ukuran

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 2 April 2026 | 17:08 WIB
Pelaku UMKM pembuatan tempe di Boyolali terdampak langsung menggilanya harga kedelai. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)Pelaku UMKM pembuatan tempe di Boyolali terdampak langsung menggilanya harga kedelai. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Lonjakan harga kedelai dunia berdampak langsung padadapur produksi para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Boyolali.

Saat ini, harga kedelai di pasaran dilaporkan telah menembus angka Rp10.500 per kilogram.

Kondisi yang mencekik ini membuat para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus memutar otak.

Baca Juga: Jelang Paskah 2026, Pemkot Solo Perketat Pengamanan dan Jaga Toleransi

Mereka dihadapkan pada dilema pelik: terpaksa menaikkan harga jual atau memangkas ukuran produk.

Para perajin mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga bahan baku utama ini terjadi secara bertahap sejak dua pekan terakhir, dengan rata-rata lonjakan berkisar antara Rp100 hingga Rp200 setiap harinya.

Siasat Kurangi Ukuran Demi Pertahankan Harga

Salah satu perajin tempe di Dukuh Bantulan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono Subandi mengaku merasakan tekanan yang luar biasa akibat fluktuasi harga kedelai.

Demi menjaga kestabilan psikologis pembeli, ia memilih strategi mengubah dimensi tempe hasil produksinya.

"Ukuran tempe yang sebelumnya panjang, sekarang menjadi lebih pendek. Tapi kalau harga jualnya masih tetap sama," jelas Subandi, Kamis (2/4/2026).

Subandi mengaku belum berani langsung menaikkan harga jual ke konsumen karena khawatir membuat pelanggan setianya lari.

Baca Juga: Turun dari Bus di Terminal Lama Selogiri, Residivis Asal Solo Kedapatan Bawa Sabu dan Ribuan Pil Yarindo

Pemangkasan ukuran tersebut juga tidak dilakukan secara sembarangan. Ia memberikan rincian teknis terkait perubahan ukuran tempe produksinya demi menyiasati ongkos, yakni:

"Ini dilakukan supaya pembeli tidak terkejut. Seakan-akan harganya tidak naik, padahal hanya diperpendek saja ukurannya," beber Subandi.

Rela Pangkas Keuntungan hingga Batas Kritis

Sementara itu, cara berbeda diterapkan oleh perajin tahu di Desa Bendan, Mardiyanto.

Baca Juga: Kasus Mobil Plat Ganda Mencuat, Wali Kota Solo: Tidak Terdaftar di Aset Resmi

Ia lebih memilih untuk menahan harga dengan cara memangkas margin keuntungannya sendiri.

"Keuntungan jadi berkurang karena kita memang belum menaikkan harga jual," ungkap Mardiyanto.

Meski demikian, Mardiyanto telah memiliki hitungan kalkulasi kapan ia harus menaikkan harga demi menyelamatkan usahanya dari ancaman kebangkrutan.

"Kalau sudah terpaksa sekali, baru menaikkan harga. Saya punya ambang batas sendiri," katanya.

Jika harga kedelai di pasaran terus melonjak tanpa kendali, Mardiyanto berencana melakukan penyesuaian harga jual tahu secara signifikan.

Baca Juga: 39 Prajurit Kodim 0723/Klaten Naik Pangkat, Dandim: Ini Amanah dan Tanggung Jawab Besar

Penyesuaian harganya adalah sebagai berikut:

Kini, para perajin tahu dan tempe di Boyolali hanya bisa berharap adanya intervensi dan kebijakan konkret dari pemerintah pusat untuk segera menstabilkan harga kedelai di pasar domestik, agar panganan yang paling merakyat ini tidak perlahan menghilang dari meja makan warga. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#kenaikan harga kedelai #pangkas ukuran #Harga Kedelai #Perajin Tempe di Boyolali