Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali menyebut, intensitas laporan terkait gangguan primata tersebut menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun.
Adaptasi Generasi Pascaleletusan Merapi 2010
Kepala DLH Boyolali, Suraji mengungkapkan, saat ini, secara administratif sudah tidak ada laporan resmi terkait serangan monyet di kawasan permukiman.
Namun, pihaknya tak menampik bahwa laporan secara tidak resmi dari warga mengenai monyet yang turun ke ladang dan pekarangan masih sering terdengar.
Baca Juga: Jadwal Kereta KRL Jogja-Solo Hari Ini, 5 April 2026: Lengkap dari Tugu hingga Palur
Khususnya di wilayah Kecamatan Tamansari, Musuk, Cepogo, dan Selo.
Menurunnya jumlah aduan ini diduga kuat karena masyarakat setempat sudah semakin terbiasa dan hidup berdampingan dengan keberadaan hewan tersebut.
Menurut penuturan Suraji, kawanan monyet ini awalnya banyak turun ke permukiman akibat dampak letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 silam dan akhirnya menetap hingga saat ini.
"Artinya sudah generasi kesekian dan diprediksi bukan monyet gunung lagi, tapi monyet yang sudah beradaptasi dengan permukiman, termasuk dalam cara mencari makan," terang Suraji.
Ia menjelaskan bahwa kawanan monyet telah bersarang di lokasi yang tak jauh dari permukiman maupun ladang warga.
Mereka biasanya keluar dari sarang untuk mencari pakan berupa tanaman sayuran, palawija, dan buah-buahan yang ditanam warga.
Penanganan dan Rekomendasi Antisipasi
Untuk melindungi lahan pertanian dari serangan monyet ekor panjang, warga sejatinya telah melakukan berbagai upaya penanganan mandiri.
Mulai dari menghalau secara manual, memasang jaring pengaman, hingga menangkapnya hidup-hidup.
Sayangnya, kawanan primata itu biasanya hanya menyingkir untuk sementara waktu dan akan kembali lagi lantaran sarang mereka memang berdekatan dengan aktivitas warga.
Menyikapi kondisi tersebut, Suraji memaparkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam.
DLH Boyolali telah melakukan kajian populasi, menggelar rapat koordinasi dengan berbagai pihak terkait, serta memfasilitasi proses penangkapan dan pengiriman monyet ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Guna meminimalisasi konflik satwa dan manusia di masa depan, DLH menyarankan warga untuk menanam pohon buah yang disukai monyet ekor panjang di area alur jurang yang mengarah ke gunung.
Selain itu, warga juga diimbau untuk menyelingi atau mengganti jenis tanaman produktif di ladang dengan komoditas yang tidak disukai oleh monyet.
Menunggu Izin Evakuasi Massal
Suraji meminta masyarakat untuk tidak ragu melapor ke pihak desa maupun pemerintah kabupaten apabila terjadi serangan monyet ekor panjang yang dinilai sudah di luar kendali.
Pihaknya menyatakan siap menindaklanjuti laporan tersebut sesuai dengan kewenangan yang ada.
Saat ini, pemerintah juga tengah merencanakan proses evakuasi kawanan monyet ke habitat yang lebih aman, namun realisasinya masih terkendala dan menunggu ketersediaan pihak yang memiliki izin resmi untuk melakukan penangkapan secara massal.
"Selama belum ada pihak yang mempunyai izin, evakuasi dilakukan untuk MEP yang terpaksa ditangkap secara mandiri oleh warga, yang selanjutnya kami evakuasi ke instansi berwenang (BKSDA)," imbuhnya.
Sebagai informasi tambahan, titik persebaran yang saat ini paling banyak melaporkan kehadiran kawanan MEP adalah desa-desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) di Kecamatan Tamansari, Musuk, Cepogo, dan Selo.
Di luar area pegunungan, gerombolan monyet ekor panjang ini juga dilaporkan kerap terlihat di sepanjang aliran Kali Gandul, tepatnya di sekitar kawasan Kebun Raya Indrokilo. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono