Ilustrasi kebakaran lahan di Banyudono, Boyolali pada 2025. (DOK.RADAR SOLO)RADARSOLO.COM–Musim kemarau pada tahun ini diprediksi terasa jauh lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut disebabkan oleh adanya potensi fenomena El Nino yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.
Menyikapi ancaman peningkatan suhu ini, Damkar Satpol PP Boyolali mengimbau seluruh lapisan masyarakat meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi ancaman kebakaran lahan.
Baca Juga: Sumanto Hadiri Entry Meeting Pemeriksaan BPK, Dorong Anggaran Berdampak ke Pengentasan Kemiskinan
Risiko Musim Panas dan Kebiasaan Buruk Pemilik Lahan
Kabid Damkar Satpol PP Boyolal Supriyono mengungkapkan, grafik risiko kebakaran lahan selalu melonjak tajam saat memasuki puncak musim kemarau.
Hal ini secara alamiah dipicu oleh meluasnya area kekeringan serta banyaknya material benda di lingkungan sekitar yang mengering sehingga sangat rentan tersulut api.
"Kalau kemarin musim panas risikonya kebakaran lahan pasti lebih besar. Karena banyak kekeringan ya pasti. Kemudian barang-barang kering itu pasti mudah terbakar," jelasnya saat dikonfirmasi radarsolo.jawapos.com, Senin (6/4/2026).
Lebih lanjut, Supriyono menyoroti sebuah kebiasaan buruk yang masih sering ditemui di lapangan. Banyak pemilik lahan yang kerap mengambil jalan pintas untuk membersihkan area perladangan mereka dengan cara dibakar.
Praktik ini dinilai sangat berbahaya karena hembusan angin kemarau dapat dengan mudah menyebabkan jilatan api merembet ke area yang jauh lebih luas.
Celakanya, saat melakukan pembakaran lahan, sebagian besar pemilik justru cenderung meninggalkan lahan tanpa pengawasan sama sekali.
Bahaya Pengasapan Kandang dan Kesiapsiagaan Pasukan
Selain melarang keras aktivitas pembakaran lahan kosong secara sembarangan, Supriyono juga mewanti-wanti masyarakat, khususnya para peternak di pedesaan, untuk tidak membakar sampah di sekitar area kandang.
Praktik pengasapan atau bediang yang tidak diawasi secara ketat sangat berisiko memicu kebakaran hebat yang bisa melahap habis bangunan kandang beserta hewan ternak di dalamnya.
"Biasanya kaya sampah-sampah basah-basah dibakar kemudian banyak asap. Memang ini diciptakan asap itu untuk ngusir serangga yang ganggu ternak itu," katanya.
Ia menambahkan, sejauh ini intensitas laporan mengenai kebakaran lahan di wilayah Boyolali memang masih tergolong sedikit.
Namun, potensi lonjakan kasus dipastikan akan berbanding lurus dengan kedatangan puncak musim kemarau di pertengahan tahun nanti.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk tersebut, pihak Damkar Boyolali memastikan diri telah menyiagakan seluruh personel dan armada secara penuh.
"Kita tetap bersiap datang, stand by. Sama Sarpras. Untuk Sarpras, insya Allah, lengkap," tambahnya.
Sebagai langkah mitigasi yang berkelanjutan, Damkar Boyolali juga berkomitmen untuk terus menggencarkan kegiatan edukasi kepada masyarakat luas.
Langkah preventif melalui penyuluhan ini dinilai sangat krusial untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai fatalnya dampak dari kebakaran lahan dan kandang.
“Kami akan terus sosialisasi, karena ternyata sosialisasi itu sangat bisa menekan kasus kebakaran lahan,” tuturnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono